KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di satu sisi, ada negara tujuan yang mencatat peningkatan nilai ekspor Balikpapan. Namun di sisi lain, penurunan tajam ke beberapa negara utama menjadi faktor dominan yang menekan kinerja ekspor secara keseluruhan.
Inilah yang tergambar pada peta ekspor kota ini pada November 2025. Nilai ekspor Balikpapan pada November 2025 tercatat sebesar 425,93 juta dolar. Angka ini turun 62,35 juta dolar atau 12,77 persen dibandingkan Oktober 2025.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh dinamika ekspor ke negara tujuan utama yang bergerak tidak searah. "Secara bulanan, ekspor ke Filipina mencatat kenaikan tertinggi. Nilainya meningkat sebesar 26,55 juta dolar atau 55,28 persen dibandingkan bulan sebelumnya," ucap Kepala Badan Pusat Statistik Balikpapan (BPS) Balikpapan Marinda Dama.
Lebih lanjut, ia berujar, Tiongkok juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan ekspor sebesar 22,52 juta dolar atau 10,64 persen. Kinerja dua negara ini memberikan penahan terhadap penurunan yang lebih dalam.
Namun, tekanan kuat datang dari negara tujuan lainnya. Ekspor ke Malaysia turun tajam sebesar 36,29 juta dolar atau 87,03 persen. Sementara itu, ekspor ke Pakistan mengalami penurunan paling ekstrem, yakni turun 25,87 juta dolar atau 100 persen, yang berarti tidak terdapat pengiriman ekspor ke negara tersebut pada November 2025.
Secara kumulatif Januari hingga November 2025, total ekspor Balikpapan ke negara tujuan utama tercatat turun sebesar 637,14 juta dolar atau 11,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Filipina tercatat sebagai negara dengan peran terbesar dalam penurunan kumulatif tersebut, dengan kontribusi penurunan mencapai 183,26 juta dolar atau 18,67 persen," sebutnya.
Pakistan menyusul dengan penurunan sebesar 181,91 juta dolar atau 61,70 persen. Marinda menilai pergeseran kinerja antarnegara tujuan ekspor ini menjadi sinyal penting bagi pelaku usaha.
“Kenaikan ekspor ke Filipina dan Tiongkok menunjukkan peluang pasar masih terbuka. Namun, penurunan tajam ke negara lain menandakan ketergantungan terhadap pasar tertentu masih cukup tinggi,” ujarnya.
Menurut Marinda, kondisi tersebut perlu disikapi dengan strategi yang lebih adaptif. “Diversifikasi negara tujuan ekspor sangat penting agar kinerja ekspor Balikpapan lebih stabil dan tidak mudah tertekan ketika satu pasar utama melemah,” timpalnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo