KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di tengah bonus demografi yang terus dibicarakan sebagai peluang sekaligus ancaman, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Balikpapan memilih jalur berbeda.
Alih-alih menunggu lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif, HIPMI justru mulai menyiapkan mahasiswa sejak dini untuk menjadi pencipta lapangan kerja.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kerja sama resmi dengan Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian (DKUMKMP) Balikpapan dengan target melahirkan 1.000 pengusaha baru.
Program ini dirancang sebagai investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045, dengan mayoritas peserta berasal dari kalangan mahasiswa.
Disampaikan Ketua BPC HIPMI Balikpapan Adam Dustin Bhakti, mahasiswa menjadi kelompok strategis karena berada pada fase pembentukan karakter dan pola pikir.
Jika sejak awal diperkenalkan pada dunia usaha, mereka dinilai memiliki waktu yang cukup panjang untuk tumbuh dan matang sebagai wirausaha.
“Kami ingin berkontribusi nyata untuk Balikpapan dengan melahirkan seribu pengusaha baru, sekitar 80 persen dari kalangan mahasiswa. Karena merekalah generasi yang akan memegang tongkat estafet pembangunan 20 tahun ke depan," kata Adam.
Menurutnya, mahasiswa baru dengan rentang usia belasan hingga sekitar 20 tahun memiliki potensi besar untuk diarahkan. Penanaman mental kewirausahaan, kepemimpinan, serta keberanian mengambil risiko dianggap akan berdampak langsung pada kekuatan ekonomi daerah di masa depan.
“Karena saya yakin kalau kita mulai dengan mahasiswa yang poinnya mereka itu mahasiswa-mahasiswa baru yang masih belasan tahun atau paling tua itu 20 tahun,” tuturnya.
HIPMI Balikpapan menargetkan pembinaan berkelanjutan agar peserta tidak hanya mencoba berusaha, tetapi benar-benar berkembang. Adam optimistis, ketika Indonesia memasuki usia emas pada 2045, para peserta program ini sudah berada pada fase pengusaha matang dan mapan.
“2045 nanti, 20 tahun lagi, mereka sudah bisa jadi pengusaha-pengusaha yang matang,” ucapnya.
Program ini juga dimaksudkan untuk mengarahkan bonus demografi agar tidak menjadi beban sosial. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar, penguatan wirausaha dinilai menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
“Itu sih harapannya ya, bonus demografi di Indonesia Emas 2045, arahnya gitu, dimulai dari sekarang,” ujar Adam. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo