KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Upaya mencetak wirausaha baru tidak cukup hanya dengan pelatihan motivasi.
Kesadaran inilah yang mendorong Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Balikpapan merancang program 1.000 pengusaha baru berbasis ekosistem usaha terintegrasi, dari legalitas hingga akses pasar internasional.
Program yang digarap bersama Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian (DKUMKMP) Balikpapan ini menargetkan lahirnya pelaku usaha yang tidak hanya siap berjualan, tetapi juga memiliki fondasi bisnis yang kuat.
Ketua BPC HIPMI Balikpapan Adam Dustin Bhakti menegaskan, pembinaan teknis menjadi fokus utama dalam pelaksanaan program. “Program ini dirancang sebagai ekosistem pembinaan usaha yang terintegrasi,” tegas Adam.
Pendampingan yang disiapkan mencakup pengurusan Nomor Induk Berusaha, sertifikasi halal, hak kekayaan intelektual, hingga pemahaman perpajakan. Selain itu, peserta juga akan difasilitasi dalam pembuatan e-katalog agar produk mereka dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Menurut Adam, banyak pelaku UMKM gagal berkembang bukan karena produk yang kurang baik, tetapi karena lemahnya aspek legal dan manajemen usaha. Karena itu, HIPMI ingin memastikan para peserta memahami dasar-dasar bisnis secara menyeluruh sejak awal.
“Pendampingan teknis ini penting supaya usaha mereka tidak berhenti di tengah jalan,” ujarnya. Di sisi permodalan, HIPMI Balikpapan menggandeng perbankan serta investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Langkah ini dilakukan untuk membuka akses pembiayaan yang selama ini menjadi kendala utama bagi UMKM pemula. Tidak hanya berhenti di pasar lokal dan nasional, HIPMI juga mulai membuka jalur ke pasar global.
Adam mengungkapkan, pihaknya telah menjalin komunikasi dengan mitra bisnis di Dubai sebagai pintu masuk ekspor produk UMKM Balikpapan. Saat ini, tiga UMKM lokal sedang menjalani uji coba pemasaran produk secara daring untuk pasar internasional.
Proses tersebut dilakukan secara bertahap dengan menyiapkan standar operasional prosedur yang jelas. “Karena ini berkaitan dengan hubungan bilateral dan ekspor, kami sedang merancang SOP yang jelas,” kata Adam.
Program ini awalnya direncanakan diluncur tahun lalu, namun harus mengalami penyesuaian jadwal. Padatnya agenda nasional pada Oktober 2025 lalu membuat banyak pemangku kebijakan terfokus di Jakarta.
“Ya kemarin kita sudah mau laksanakan di bulan Oktober 2025 namun beberapa menteri tidak bisa hadir," ucapnya. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, HIPMI Balikpapan memutuskan untuk menjadwalkan ulang pelaksanaan program. Waktu peluncuran paling memungkinkan adalah setelah Lebaran.
Rencananya, program ini akan melibatkan sekitar 1.000 peserta dan dijadikan program unggulan HIPMI Balikpapan pada periode kepengurusan 2024–2027. Pelaksanaannya sendiri dijadwalkan ulang dan kemungkinan digelar setelah Lebaran atau sekitar Mei 2026 mendatang.
“Kemungkinan setelah Lebaran atau bulan Mei mendatang, insya Allah kita laksanakan program 1.000 Pengusaha Baru ini,” tutupnya.
Dengan pendekatan ekosistem dan kolaborasi lintas sektor, HIPMI Balikpapan berharap program ini mampu melahirkan UMKM yang tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas dan mampu bersaing di pasar global. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo