Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Impor Bulanan Balikpapan Turun pada November 2025, Minyak Mentah Tetap Mendominasi

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 14 Januari 2026 | 17:25 WIB

 

PERDAGANGAN: Impor minyak mentah masih menjadi penggerak utama arus barang masuk di Balikpapan, menunjukkan kuatnya ketergantungan industri lokal terhadap komoditas energi.
PERDAGANGAN: Impor minyak mentah masih menjadi penggerak utama arus barang masuk di Balikpapan, menunjukkan kuatnya ketergantungan industri lokal terhadap komoditas energi.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Angka impor Balikpapan pada November 2025 menurun dibanding bulan sebelumnya, namun cerita di baliknya tidak sesederhana itu.

Di balik penurunan bulanan tersebut, minyak mentah justru masih menjadi penggerak utama arus barang masuk, menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan industri lokal terhadap komoditas energi.

“Impor migas turun cukup dalam, khususnya minyak mentah, meskipun secara tahunan masih menunjukkan peningkatan yang signifikan,” kata Marinda Dama, selaku Kepala Badan Pusat Statistik(BPS) Balikpapan.

Ia mengatakan penurunan impor migas menjadi faktor utama melemahnya total impor secara bulanan. Selanjutnya, BPS mencatat nilai impor Balikpapan pada November 2025 sebesar 390,51 juta dolar. Angka ini turun 52,17 juta dolar atau 11,78 persen dibandingkan Oktober 2025.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya impor migas yang menyusut dari 387,27 juta dolar menjadi 317,04 juta dolar. Secara tahunan, gambaran justru berbalik. Dibandingkan November 2024, nilai impor Balikpapan pada November 2025 meningkat sebesar 30,75 persen.

"Kenaikan ini terutama didorong oleh impor migas yang tumbuh 50,41 persen. Minyak mentah menjadi komoditas dengan lonjakan tertinggi, naik 82,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," jelasnya.

Sementara itu, impor nonmigas justru mengalami dinamika berbeda. Pada November 2025, impor nonmigas tercatat sebesar 73,46 juta dolar, meningkat 32,59 persen dibanding Oktober 2025.

Namun secara kumulatif Januari–November 2025, impor nonmigas masih mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika dilihat dari negara asal, struktur impor Balikpapan juga menunjukkan konsentrasi yang cukup tinggi. Secara kumulatif Januari–November 2025, Nigeria menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai mencapai 960,65 juta dolar atau berkontribusi 24,23 persen terhadap total impor.

Posisi berikutnya ditempati Singapura dengan 694,72 juta dolar atau 17,52 persen, disusul Angola sebesar 569,42 juta dolar atau 14,36 persen. Marinda menjelaskan bahwa dominasi negara-negara tersebut erat kaitannya dengan impor migas.

“Negara asal impor terbesar masih berkaitan dengan kebutuhan minyak mentah dan produk migas lainnya. Ini menunjukkan bahwa aktivitas industri di Balikpapan masih sangat dipengaruhi oleh sektor energi,” tutur Marinda.

Menurutnya, meskipun terjadi penurunan impor secara bulanan, struktur impor Balikpapan belum mengalami perubahan signifikan. "Selama minyak mentah masih menjadi komoditas utama, fluktuasi harga dan pasokan global akan terus memengaruhi kinerja perdagangan daerah," lanjutnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Nonmigas #minyak mentah #impor #migas #balikpapan