Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Transformasi Pelaku UMKM Balikpapan, Mulai Rambah Pasar Ekspor, Harus Diiringi Pembenahan Internal

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 14 Januari 2026 | 20:29 WIB

 

BERGELIAT: Produk-produk UMKM Balikpapan mulai menemukan pasar yang lebih luas dengan menembus pasar ekspor, meski masih dalam volume terbatas.
BERGELIAT: Produk-produk UMKM Balikpapan mulai menemukan pasar yang lebih luas dengan menembus pasar ekspor, meski masih dalam volume terbatas.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Balikpapan menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada sektor kuliner dan ekonomi kreatif.

Anak-anak muda mulai berani membuka usaha berbasis inovasi, memanfaatkan media digital, serta menjadikan identitas lokal sebagai nilai jual.

Produk olahan makanan laut, kopi, fesyen berbasis etnik, hingga kerajinan tangan kini tidak hanya menyasar pasar lokal, tetapi mulai merambah pasar luar daerah bahkan ekspor skala kecil.

"Ada perubahan ekosistem yang mendorong masyarakat lebih adaptif dan produktif. Dan Balikpapan sekarang tidak hanya bertumpu pada sektor jasa dan migas. UMKM tumbuh sebagai penopang ekonomi baru, terutama dari generasi muda yang kreatif dan melek pasar,” ungkap Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan Noval Asfihani, kemarin (14/1).

Ia menilai pertumbuhan UMKM tidak terjadi secara tiba-tiba. Momentum ini diperkuat dengan diresmikannya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan oleh Presiden Prabowo pada 12 Januari.

Proyek pengembangan kilang tersebut menjadi mesin ekonomi baru yang memberikan efek berantai, mulai dari peningkatan pendapatan daerah hingga pembukaan lapangan kerja.

Menurut Noval, kehadiran RDMP tidak hanya berdampak langsung pada sektor industri, tetapi juga memberi peluang besar bagi UMKM. “Kebutuhan konsumsi tenaga kerja, jasa pendukung, hingga produk lokal akan meningkat. Di sinilah UMKM Balikpapan harus masuk dan mengambil peran,” katanya.

Lebih jauh, posisi Balikpapan sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) di Sepaku menjadi faktor penguat lainnya.

Arus mobilitas manusia, logistik, dan investasi yang meningkat membuka pasar baru bagi pelaku usaha lokal. UMKM yang mampu menjaga kualitas, konsistensi produksi, dan standar pasar diyakini akan menjadi pemain utama dalam rantai ekonomi kawasan IKN.

“Kami di Kadin mendorong UMKM tidak hanya bertahan, tapi naik kelas. IKN adalah peluang jangka panjang. Balikpapan harus menjadi pusat ekonomi rakyat yang kuat, bukan sekadar kota transit,” ujar Noval.

Seiring waktu, produk-produk UMKM mulai menemukan pasar yang lebih luas. Beberapa UMKM bahkan telah menembus pasar ekspor, meski masih dalam volume terbatas, melalui jejaring digital dan pameran dagang. Noval menyebut fenomena ini sebagai tanda kematangan ekonomi lokal.

“UMKM Balikpapan sudah mulai berpikir global. Mereka tidak lagi hanya menjual, tapi membangun merek dan cerita produk. Dan jumlahnya itu bisa lebih dari puluhan ribu dengan berbagai bidang dan jenis UMKM,” kata Noval.

Ia menambahkan, pembangunan RDMP Balikpapan menjadi katalis penting dalam memperkuat fondasi ekonomi daerah. Selain meningkatkan kapasitas industri energi nasional, proyek ini juga menyerap tenaga kerja lokal dan menciptakan permintaan baru bagi sektor pendukung.

“RDMP memberi efek berganda. Ketika tenaga kerja meningkat, daya beli naik, maka UMKM akan ikut tumbuh. Tantangannya adalah bagaimana UMKM siap secara kualitas dan kapasitas,” ujarnya.

Kehadiran IKN di Sepaku semakin memperluas cakupan peluang. Balikpapan diproyeksikan menjadi pusat logistik, jasa dan ekonomi kreatif yang melayani kebutuhan kawasan IKN. Kondisi ini membuka ruang besar bagi UMKM lokal untuk menjadi pemasok tetap, baik di sektor makanan, suvenir, maupun jasa kreatif.

Namun Noval mengingatkan, peluang besar ini harus diiringi dengan pembenahan internal. Pelaku UMKM perlu didorong untuk memahami standar produk, legalitas usaha, hingga strategi pemasaran modern. “IKN akan menghadirkan persaingan. Kalau UMKM Balikpapan tidak berbenah, peluang bisa diambil pihak luar,” tegasnya.

Kadin Balikpapan, lanjut Noval, berkomitmen menjadi jembatan antara UMKM, industri besar, dan pemerintah. Dengan kolaborasi yang kuat, ia optimistis UMKM Balikpapan tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama dalam transformasi ekonomi kawasan penyangga IKN.

“Balikpapan punya modal sosial, sumber daya manusia, dan semangat wirausaha. Tinggal bagaimana kita mengelolanya agar benar-benar berdampak bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkas Noval. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pertumbuhan #pasar ekspor #balikpapan #pelaku umkm