KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Berjualan makanan dan minuman dengan konsep ramah kesehatan perlahan mengubah cara Yenni Kartika Wulan memandang tubuh dan gaya hidupnya sendiri.
Apa yang awalnya sekadar upaya menghadirkan jus racik dan makanan dengan proses lebih sehat, kini berkembang menjadi perjalanan menuju dunia kebugaran.
Wulan mengakui selama bertahun-tahun fokus memastikan produknya aman dikonsumsi, rendah minyak dan lebih ramah bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan seperti diabetes atau kolesterol. Namun, kesadaran itu belum sepenuhnya ia terapkan pada dirinya sendiri.
“Titik baliknya itu dua tahun lalu. Aku habis melahirkan, badanku berubah, overweight. Sampai suatu hari aku ketemu trainer di gym, dia tahu aku jual makanan sehat, lalu bilang, kamu bohongin orang dong,” kenang Wulan.
Ucapan itu tak ia anggap sebagai sindiran, melainkan tamparan yang menyadarkannya. Ia merasa perlu membuktikan bahwa apa yang ia jual bukan sekadar narasi pemasaran, melainkan bagian dari gaya hidup yang ia jalani sendiri.
Sejak saat itu, Wulan mulai berolahraga secara terprogram. Jika sebelumnya olahraga dilakukan seadanya, kini ia menjalani latihan hampir setiap hari. Dalam dua tahun terakhir, ia menekuni dunia kebugaran secara serius, mulai dari fitness hingga poundfit dan akhirnya mengantongi sertifikasi sebagai trainer olahraga.
“Aku awalnya belajar buat diri sendiri. Tapi karena aku orangnya kalau sudah suka sesuatu pasti aku pelajari serius, akhirnya aku ambil sertifikasi trainer,” ujarnya.
Pengalaman sebagai trainer juga ikut memengaruhi pengelolaan usahanya. Permintaan pelanggan yang semakin beragam mulai dari mereka yang ingin defisit kalori hingga pegiat gym, mendorong Wulan menambahkan informasi nilai gizi dan hitungan kalori pada menu kateringnya.
“Awalnya enggak pakai hitungan kalori. Itu muncul karena banyak request dari anak-anak gym. Dari situ aku belajar hitung kalori, pakai aplikasi, timbang bahan. Semua berkembang pelan-pelan,” katanya.
Meski kini lebih dekat dengan dunia kebugaran, Wulan menegaskan usahanya bukan bisnis diet ekstrem. Ia tetap berpegang pada konsep awal yakni makanan sehari-hari dengan proses yang dibuat lebih ramah kesehatan.
“Aku enggak pernah klaim ini makanan diet penurun berat badan. Ini makanan yang bisa dimakan semua orang, tapi prosesnya kita ubah. Lebih sedikit minyak, lebih sedikit MSG, lebih sadar bahan,” tuturnya.
Keseimbangan antara usaha, keluarga dan olahraga menjadi alasan Wulan tetap mempertahankan jam operasional yang terbatas. Produksi selesai pukul 14.00 Wita, memberi ruang baginya untuk berolahraga hampir enam kali dalam sepekan. “Sore itu waktuku olahraga. Itu kayak me time sekaligus investasi kesehatan,” ujarnya.
Bagi Wulan, bisnis kuliner sehat dan dunia kebugaran kini berjalan beriringan. Bukan sebagai strategi pemasaran, melainkan sebagai cerminan gaya hidup yang ia pilih. Ia percaya, kepercayaan konsumen tidak hanya dibangun dari rasa dan kualitas produk, tetapi juga dari konsistensi nilai yang dijalani pemiliknya.
“Kalau aku enggak menjalaninya sendiri, orang juga lama-lama enggak percaya. Jadi sekarang aku merasa usaha ini dan hidupku sudah sejalur,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo