KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Jalan Muhammad Adam Nazuari menekuni dunia kopi tak dimulai dari kursi empuk pemilik usaha.
Dia menapaki industri itu dari bawah, menjadi barista, pelayan, hingga manajer outlet sebelum akhirnya dipercaya mengelola dua kedai kopi lokal di Samarinda, Laris Coffee dan Hage Coffee.
Adam merupakan owner di dua brand tersebut dengan komposisi kemitraan yang berbeda. Ketertarikannya pada dunia kopi bermula lebih dari enam tahun lalu, ketika dia mulai belajar kopi secara autodidak.
Momentum itu berlanjut saat kakaknya pulang dari Jakarta dan membuka coffee shop di kawasan Citra Niaga. Adam memilih tidak langsung menjadi pemilik, melainkan belajar sebagai karyawan.
“Saya minta jatah jadi barista saja waktu itu, biar belajar kopi dan bisnisnya sekalian,” katanya.
Kala itu, Citra Niaga sedang naik daun. Banyak kedai kopi lokal membangun usahanya di sana. Pengalaman tersebut mengantarkannya bekerja di berbagai kedai kopi di Samarinda.
Dia juga sempat menjadi manajer outlet dan menangani hingga empat cabang sekaligus saat bergabung dengan manajemen bisnis Sinergi Receh.
Dari sanalah Adam mengasah kemampuan mengelola keuangan, membuat keputusan strategis, hingga membaca risiko usaha. “Ilmu manajemennya di situ banyak banget. Bukan cuma kopi, tapi bisnis secara keseluruhan,” ungkapnya.
Setelah sembilan bulan belajar bisnis, Adam mulai menyusun proposal bisnis sendiri. Proposal itulah yang kemudian menjadi cikal bakal Laris Coffee.
Berbekal riset lokasi dan konsep revitalisasi, dia meyakinkan partner untuk membuka kedai di kawasan Citra Niaga. “Saya datang bawa konsep, target, strategi, sampai hitung-hitungan angkanya. Partner langsung bilang, gas saja,” katanya.
Berbeda dengan Hage Coffee yang sudah lebih dulu eksis sejak November 2024 dan sempat mengalami penurunan tren, Laris Coffee resmi dibuka pada April 2025. Untuk Hage Coffee, Adam masuk sebagai pengelola setelah brand tersebut berjalan cukup lama.
Dia melakukan penataan ulang menu dan menerapkan sistem manajemen yang lebih rapi. “Saya bilang, kita coba pakai set up manajemen bisnis yang biasa saya pakai. Alhamdulillah jalan,” ujarnya.
Dalam pengelolaan Laris Coffee, Adam menekankan pentingnya tata kelola yang sehat dibanding sekadar mengejar keramaian. Menurutnya, bisnis yang baik bukan yang selalu ramai, melainkan yang mampu bertahan.
“Bisnis yang bagus itu bukan bisnis yang rame, tapi bisnis yang bertahan lama. Membangun itu mudah, mempertahankan yang susah,” tegasnya.
Dia menyebut keputusan bisnis harus berbasis perhitungan, mulai dari belanja bahan baku, mitigasi penurunan omzet, hingga skema operasional saat kondisi pasar berubah. “Kalau manajemennya bagus, semua keputusan bisa lebih solutif, bukan cuma buang-buang uang,” tandas Adam. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo