Tanpa pendidikan desain formal, Azis mengasah kemampuan secara autodidak. Hobinya itu terus terbawa hingga remaja. Saat duduk di bangku SMA, dia bahkan pernah menerima bayaran Rp100 ribu untuk total 10 desain, dari seorang penjahit yang tertarik pada desain gaun buatannya.
“Dia jahit, lalu bajunya ditunjukkan ke saya. Dia goyang-goyang bajunya, bilang ini desainmu. Saya kaget, ternyata bagus,” kenangnya.
Meski memiliki bakat desain, Azis tak langsung terjun ke dunia fesyen. Setelah lulus sekolah, dia bekerja di perusahaan sawit dan bertahan selama 12 tahun. Menggambar tetap menjadi pelarian di sela rutinitas kantor. “Kalau ada waktu luang, hiburan saya ya gambar,” ujar pria kelahiran 1979 itu.
Perubahan mulai terasa pada 2016. Saat itu, kondisi keuangan Azis tertekan akibat membangun rumah dan kewajiban di koperasi kantor. Dia kemudian melihat potensi dari kemampuan menjahit sang istri. Awalnya, pakaian hanya dibuat untuk kebutuhan sendiri. “Lebaran bikin baju sendiri, ada undangan bikin baju sendiri,” katanya.
Ketertarikan pada batik turut membentuk arah usahanya. Sejak lama, Azis gemar membeli batik setiap bepergian. Kain-kain itu menumpuk di rumah. Melihat tetangga sukses menjual batik lewat media sosial, Azis ikut mencoba meski tak akrab dengan teknologi. “Facebook saja enggak punya, Instagram juga enggak punya. Dibikinkan ponakan,” ujarnya.
Tanpa strategi pemasaran rumit, dia hanya mengunggah foto kain. Respons pasar datang tak terduga. Pesanan mengalir, bahkan dari luar daerah. Suatu hari, empat calon pembeli datang ke rumah hanya untuk melihat kain.
“Mereka enggak tahu kalau di sini bisa jahit. Saya desainkan, jahit di sini. Mereka suka banget sama hasilnya ternyata. Bahkan lebih bagus dari ekspektasi mereka,” katanya. Dari situlah jasa jahit mulai berkembang.
Kepercayaan pelanggan tumbuh dari mulut ke mulut. Banyak pelanggan berasal dari kalangan Tionghoa yang dikenal detail dan perfeksionis. “Saya benar-benar digembleng. Dipaksa bisa,” ujarnya. Pengalaman itu menempa kemampuannya dalam desain, potong pola, hingga presisi jahitan.
Lalu pada 2018 menjadi titik balik. Pendapatan dari usaha jahit sudah melampaui gaji kantor. “Saya minta izin ibu saya, minta ridhonya,” kata Azis. Dia pun memutuskan resign dan fokus penuh mengembangkan usaha yang kemudian dikenal sebagai Borneo Batik.
Keputusan itu mengantarkannya ke fase baru. Pelanggan kian beragam, termasuk kalangan pejabat dan istri pejabat. Dari hobi menggambar zaman bocah, Azis menjelma menjadi pelaku industri kreatif yang konsisten membangun identitas busana berbasis kearifan lokal. Beragam desain batik lahir dari tangannya. Mencerminkan budaya Bumi Etam. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo