KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Di tengah tekanan biaya yang membayangi sektor pertanian, subsektor hortikultura justru tampil sebagai penopang utama daya beli petani Kalimantan Timur pada akhir 2025.
Kenaikan tajam harga hasil hortikultura menjadi penyeimbang di saat sejumlah subsektor lain mengalami pelemahan.
Data BPS Kaltim mengungkap Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) pada Desember 2025 mencapai 115,21, melonjak 3,62 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut merupakan yang tertinggi di antara seluruh subsektor pertanian.
Disampaikan Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana, lonjakan NTPH didorong oleh peningkatan signifikan Indeks Harga yang Diterima Petani hortikultura yang naik 4,16 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani hanya meningkat 0,52 persen.
“Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok sayur-sayuran yang naik hingga 7,73 persen, disusul tanaman obat-obatan sebesar 3,24 persen,” jelasnya.
Selain hortikultura, subsektor peternakan juga menunjukkan kinerja positif. Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) tercatat 108,13, naik 0,78 persen, ditopang oleh kenaikan harga unggas dan hasil-hasil ternak.
Sebaliknya, sejumlah subsektor mengalami penurunan kinerja. Subsektor tanaman perkebunan rakyat terkoreksi 1,13 persen, disusul perikanan yang turun 0,34 persen, serta tanaman pangan yang melemah tipis 0,03 persen.
Yusniar menilai perbedaan kinerja antar subsektor itu mencerminkan dinamika harga komoditas yang sangat bergantung pada permintaan pasar dan struktur biaya masing-masing subsektor. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo