KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Transformasi ekonomi hijau di Kalimantan Timur kian menguat seiring kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN).
Gubernur Rudy Mas’ud menyampaikan, kehadiran IKN bukan sekadar pemindahan pusat pemerintahan, tetapi juga titik balik arah ekonomi daerah dan nasional.
“Ini memberikan energi baru dan keyakinan bahwa Kalimantan Timur benar-benar menjadi bagian penting dari arah pembangunan nasional, terutama setelah hadirnya Ibu Kota Nusantara,” ungkap Rudy Mas’ud di hadapan civitas akademika pada kegiatan kuliah umum di Universitas Balikpapan.
Rudy menegaskan bahwa percepatan pembangunan IKN menuntut semua pihak untuk siap, termasuk sumber daya manusia lokal.
Ia menyebutkan, pada 2027 mendatang, gedung-gedung utama pemerintahan seperti eksekutif, legislatif, dan yudikatif ditargetkan rampung, sehingga pusat pemerintahan akan mulai bergeser ke Kalimantan Timur.
“Semuanya harus siap, bahkan dipaksakan untuk siap. Tidak ada lagi halangan, karena pusat pemerintahan akan segera berpindah ke Kalimantan Timur,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini menjadi peluang emas, terutama bagi mahasiswa dan generasi muda. Mereka diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam mengisi kebutuhan tenaga kerja dan inovasi di berbagai sektor baru yang tumbuh seiring pembangunan IKN.
Rudy menekankan bahwa Kalimantan Timur tidak boleh lagi bergantung pada sektor ekstraktif semata. Selama ini, daerah dikenal sebagai penghasil sumber daya alam, khususnya pertambangan. Namun ke depan, arah pembangunan harus bergeser menuju ekonomi yang berkelanjutan.
“Kalimantan Timur tidak hanya dikenal sebagai penghasil sumber daya alam. Masa depan bangsa ini tidak bisa kita gantungkan pada energi fosil atau energi yang tidak terbarukan,” ujarnya.
Ia mengutip arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya investasi pada sumber daya manusia. Menurut Rudy, kekayaan alam pada akhirnya akan habis, tetapi kualitas manusia akan menjadi penggerak utama ekonomi jangka panjang.
“Jangan pernah mengandalkan sumber daya alam, karena itu akan habis. Yang harus kita andalkan adalah sumber daya manusia yang mampu menggerakkan ekonomi, tidak hanya di sektor pertambangan, tetapi terutama di sektor ekonomi hijau, ekonomi biru, dan green energy,” jelasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo