KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Di tengah gejolak pasar saham dan ketidakpastian global, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset pelindung nilai. Namun, pakar menekankan bahwa fungsi tersebut hanya akan optimal jika didukung pemahaman dan literasi yang memadai.
Emas memiliki karakter yang berbeda dibandingkan instrumen investasi lain. Emas cenderung lebih stabil ketika pasar saham mengalami tekanan.
“Biasanya emas itu cenderung naik saat pasar saham bergejolak,” ujar Musdalifah Azis, Pembina Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (FEB Unmul).
Dia mencontohkan tekanan di pasar saham yang dipicu oleh sentimen global. Seperti saat Rabu (28/1) lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam hingga 8 persen pada perdagangan saham.
Hal itu seiring respons negatif pasar terhadap pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perubahan metodologi penilaian free float saham di Indonesia.
“Aksi jual asing meningkat yang mempercepat tekanan pada indeks, sehingga terjadi penurunan tajam lebih dari 8 persen,” jelas Musdalifah, Rabu (28/1) sore.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi domestik, melainkan dampak ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Dalam konteks portofolio, Musdalifah menjelaskan bahwa emas berperan sebagai penyeimbang risiko. Berbeda dengan obligasi yang memberikan kupon tetap namun sensitif terhadap suku bunga, emas tidak memberikan pendapatan berkala tetapi kuat sebagai pelindung nilai.
Dia menilai investor institusional umumnya lebih rasional dalam memosisikan emas. Emas dijadikan cadangan dan aset lindung nilai struktural untuk menekan volatilitas portofolio.
Sementara itu, investor ritel cenderung melihat emas sebagai tabungan jangka panjang untuk menghadapi inflasi dan pelemahan nilai tukar. Persepsi tersebut perlu diimbangi dengan literasi agar tidak memicu keputusan emosional.
“Literasi memang harus terus ditingkatkan, karena banyak yang sudah terinklusi tapi belum terliterasi dengan baik,” tegasnya.
Musdalifah menekankan emas bukan mesin pertumbuhan cepat, melainkan penyangga stabilitas keuangan. Dengan porsi yang tepat dan disiplin, emas dapat berfungsi optimal di tengah ketidakpastian ekonomi. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo