KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Upaya peningkatan produksi pangan di Kalimantan Timur tidak hanya ditempuh melalui pencetakan sawah baru. Pemerintah daerah kini mendorong strategi intensifikasi dengan mengoptimalkan lahan sawah yang telah tersedia.
Salah satu instrumen utama yang dijalankan adalah program optimalisasi lahan atau oplah. Pada 2025, program ini menyasar sekitar 13.900 hektare sawah eksisting di berbagai wilayah Kaltim.
Intensifikasi pertanian sendiri merupakan upaya meningkatkan hasil dengan memaksimalkan lahan yang ada. Strategi ini berbeda dengan ekstensifikasi yang menambah produksi melalui perluasan lahan, seperti cetak sawah.
Baca Juga: Influencer “Kembaran” Vinicius Jr Dikontrak Klub Sepak Bola Venezuela
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kaltim Fahmi Himawan menjelaskan, oplah difokuskan pada sawah yang secara fisik masih tersedia, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui intervensi teknis, lahan tersebut didorong agar bisa ditanami lebih dari satu kali dalam setahun.
“Program oplah ini arahnya untuk meningkatkan indeks tanam. Lahannya sudah ada, tinggal kita perbaiki dan optimalkan,” ujar Fahmi.
Intervensi dalam program oplah mencakup berbagai aspek teknis. Di antaranya perbaikan jaringan irigasi tersier, pengelolaan tata air, serta penyesuaian teknik budidaya agar lahan dapat ditanami lebih intensif.
Baca Juga: DPRD Kaltim Dukung Penuh Pembentukan FIK Unmul, Targetkan Akselerasi di 2026
Dengan pendekatan tersebut, sawah yang sebelumnya hanya ditanami satu kali diharapkan dapat meningkatkan frekuensi tanamnya. Peningkatan indeks tanam inilah yang dinilai menjadi kunci untuk mendongkrak produksi tanpa harus membuka lahan baru.
Menurut Fahmi, strategi ini sekaligus menjawab keterbatasan ruang dan tantangan lingkungan yang dihadapi daerah. Dengan lahan yang sama, produksi pangan dapat ditingkatkan melalui efisiensi dan pengelolaan yang lebih baik.
Ia menegaskan, program oplah berbeda dengan cetak sawah. Jika cetak sawah berfokus pada penambahan luasan lahan pertanian, oplah sepenuhnya diarahkan pada peningkatan kinerja sawah yang sudah ada.
Baca Juga: Kawhi Leonard Tersisih dari NBA All Star 2026, Padahal Musim Terbaiknya
Karena itu, sasaran oplah dipilih secara selektif berdasarkan kondisi teknis dan potensi peningkatan indeks tanam. “Kalau lahannya memang masih bisa dioptimalkan, kita dorong lewat oplah. Tujuannya supaya produktivitas naik tanpa harus menunggu lahan baru,” katanya.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur serta pendampingan di tingkat petani. Pemerintah daerah berupaya memastikan intervensi teknis yang dilakukan sesuai dengan kondisi lapangan.
Melalui strategi intensifikasi tersebut, kontribusi sawah eksisting diharapkan semakin kuat dalam mendukung ketahanan pangan daerah. Di tengah berbagai keterbatasan, optimalisasi lahan diposisikan sebagai langkah realistis untuk meningkatkan produksi dengan memaksimalkan potensi yang sudah tersedia. (*)
Editor : Ery Supriyadi