KALTIMPOST.ID, PENAJAM - Berbeda dengan Balikpapan yang mengalami deflasi secara bulanan, Penajam Paser Utara (PPU) pada Januari 2026 mencatat inflasi sebesar 0,05 persen (month to month/mtm).
Namun secara tahunan inflasi di wilayah ini berada di level 2,75 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional maupun Kaltim.
Kepala Bank Indonesia (BI) Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, inflasi di PPU terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,05 persen (mtm).
Lima komoditas utama penyumbang inflasi tertinggi di PPU adalah ikan tongkol, tomat, daging ayam ras, kayu balokan, dan emas perhiasan.
“Ikan tongkol mengalami kenaikan harga karena gelombang laut yang tinggi sehingga membatasi aktivitas nelayan dan menurunkan pasokan,” sebut Robi, Selasa (3/2).
Tomat juga mengalami kenaikan harga akibat terbatasnya produksi dari daerah sentra di Sulawesi dan Jawa. Sementara itu, harga kayu balokan meningkat karena tingginya intensitas hujan yang berdampak pada naiknya biaya angkut.
Di sisi lain, kelompok transportasi menjadi penyumbang deflasi terbesar di PPU dengan andil 0,05 persen (mtm).
Komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, buncis, bawang merah, dan jagung manis mengalami penurunan harga seiring meningkatnya pasokan, baik dari sentra produksi maupun dari hasil produksi lokal.
Robi menambahkan, ke depan terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, antara lain puncak musim hujan, potensi banjir, serta gelombang laut tinggi yang dapat mengganggu distribusi dan produksi pangan.
“Masuknya periode Ramadan dan Idulfitri 2026 juga berpotensi mendorong peningkatan permintaan, sehingga perlu diantisipasi melalui penguatan pasokan,” katanya.
Untuk itu, Bank Indonesia bersama TPID akan terus mendorong operasi pasar, gelar pangan murah, kerja sama antar daerah, serta pemanfaatan lahan pekarangan guna menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran nasional 2,5 persen plus minus 1 persen.
"Kita akan teruskan program-program operasi pasar dan lainnya bersama pemerintah untuk menjaga daya beli atau perputaran uang di Balikpapan dan Penajam Paser Utara tetap lancar," pungkasnya.
Sebelumnya, diwartakan jika Balikpapan mengalami deflasi sebesar 0,11 persen (mtm) pada Januari 2026. Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat sebesar 3,26 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kaltim yang berada di level 3,76 persen (yoy), maupun inflasi nasional sebesar 3,55 persen (yoy).
Robi menjelaskan, deflasi di Balikpapan terutama disumbang oleh kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,28 persen (mtm). Komoditas utama penyumbang deflasi terdalam meliputi angkutan udara, bensin, cabai rawit, tarif Sekolah Menengah Atas, dan cabai merah.
Penurunan tarif angkutan udara didorong oleh normalisasi permintaan tiket setelah berakhirnya periode puncak libur Nataru. Sementara itu, turunnya harga bensin dipengaruhi kebijakan penurunan harga Pertamax sebesar Rp 400 per liter sejak 1 Januari 2026.
“Untuk komoditas cabai, penurunan harga didukung oleh meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi seiring mulai masuknya periode panen,” jelasnya.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi terbesar di Balikpapan dengan andil 0,18 persen (mtm). Komoditas seperti emas perhiasan, daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, baju muslim anak, dan mobil tercatat mengalami kenaikan harga. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo