KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di tengah meningkatnya konsumsi Ramadan, perhatian tak hanya pada harga, tetapi juga kualitas. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DPPKUKM) Kaltim mengakui praktik pelabelan tak sesuai masih menjadi perhatian serius.
“Selama Ramadan, DPPKUKM sangat intensif untuk lakukan pengawasan, menyangkut harga maupun mutu juga keamanan,” ujar Petugas Pengawas Barang dan Jasa DPPKUKM Kaltim, Gunadi.
Salah satu temuan yang menjadi sorotan adalah ketidaksesuaian label premium dengan kualitas isi. “Misal labelnya premium, begitu diuji medium. Itu jadi perhatian buat kami,” tegasnya.
Pengawasan dilakukan bersama Satuan Tugas Sapu Bersih (Satgas Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan dan Mutu Pangan dengan turun langsung ke lapangan di seluruh kabupaten/kota. Tim tak hanya menyasar pasar tradisional, tetap juga jalur distribusi. Memastikan produk yang beredar benar-benar sesuai dengan klaim pada kemasan.
Pihaknya ingin memastikan tidak ada pelaku usaha yang menaikkan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun memanfaatkan momentum Ramadan untuk menurunkan mutu. “Masalah harga yang harus sesuai HET atau harga acuan pemerintah, pemantauan apakah ada kenaikan yang dilakukan pelaku usaha,” katanya.
Pemantauan harga dilakukan setiap hari oleh petugas, terutama pada komoditas pokok utamanya adalah beras, minyak goreng hingga cabai. Data harga dikumpulkan dari pasar-pasar yang tergabung dalam sistem pemantauan. Jika ditemukan kenaikan, dilakukan intervensi distribusi agar stok segera ditambah dan harga kembali stabil.
Selain itu, pengawasan mutu juga difokuskan pada konsistensi antara label dan kualitas produk. Pemerintah mendorong pelaku usaha memperbaiki standar produksi dan tidak bermain-main dengan klasifikasi mutu demi meraup keuntungan lebih besar di momen tingginya permintaan.
Langkah tersebut diambil demi menjaga kepercayaan masyarakat. Pemerintah mendorong pelaku usaha memperbaiki kualitas dan mematuhi aturan. Pengawasan mutu menjadi pesan kuat bahwa Ramadan bukan momentum mengambil keuntungan berlebihan, melainkan menjaga keseimbangan antara produsen dan konsumen. (*)
Editor : Ismet Rifani