SAMARINDA – Bank Indonesia (BI) memperkuat strategi pengendalian inflasi Kalimantan Timur pada 2026 dengan sistem pemantauan baru berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem bernama Mandau (Mekanisme Pemantauan Komoditas Utama Kaltim) itu diklaim lebih komprehensif dibanding Early Warning System (EWS) yang digunakan sebelumnya.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Bayuadi Herdiyanto menjelaskan, sepanjang 2025 pengendalian inflasi relatif terjaga berkat sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
“Di 2025 itu memang TPID di provinsi dan kabupaten kota itu kompak, bersinergi didukung oleh sistem yang namanya EWS, memantau 18 komoditas penyumbang inflasi setiap hari,” ujarnya.
Melalui sistem tersebut, pemantauan dilakukan secara berkala hingga mingguan. “Secara mingguan dapat diperoleh prediksi, sehingga kita bisa tahu komoditas apa yang kira-kira akan menyumbang inflasi, melihat andilnya juga dari masing-masing komoditas,” jelasnya.
Ke depan, BI meningkatkan kapasitas sistem tersebut dengan Mandau berbasis AI. EWS tidak dihapus, melainkan menjadi bagian dari sistem yang lebih besar. “Di 2026 ini juga, karena melihat efektivitas EWS itu, sistem lebih canggih bernama Mandau berbasis AI. Mandau lebih komprehensif dibanding EWS, EWS jadi bagian dari Mandau,” terang Bayuadi.
Menurutnya, teknologi AI akan memberikan rekomendasi kebijakan berdasarkan prediksi pergerakan harga. “AI akan memberikan advice apa yang harus dilakukan dengan melihat prediksi-prediksi tersebut,” tambahnya.
Meski demikian, tantangan struktural masih membayangi. Ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi faktor risiko utama. “Tantangannya, berkaca dari 2025, gangguan cuaca di daerah sentra, 80 persen kita bergantung dari luar. Kalau ada gangguan cuaca, berdampak ke produksi dan pasokan misal dari Sulawesi, bisa memicu inflasi misal kayak beras dan komoditas lain,” ungkapnya.
Artinya, stabilitas harga di Kaltim tidak hanya ditentukan oleh kondisi internal, tetapi juga faktor eksternal seperti cuaca dan kelancaran distribusi antarwilayah. Dengan sistem Mandau berbasis AI, Pihaknya berharap langkah antisipatif bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Pendekatan berbasis data dan teknologi ini diharapkan memperkuat respons kebijakan, sehingga tekanan inflasi dapat dikendalikan lebih efektif pada 2026.
Editor : Muhammad Ridhuan