Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Perjuangan Kelompok Pengrajin Batik Semoi Nusantara Bangkitkan Pesona Lada dari IKN

Nasya Rahaya • Sabtu, 28 Februari 2026 | 20:34 WIB

KREATIF: Ketua Kelompok Batik Semoi Nusantara, Nuryati (kanan) dan Pedah Nur Rahmiati (kiri) memperlihatkan produk turunan batik di kawasan Masjid Negara IKN.
KREATIF: Ketua Kelompok Batik Semoi Nusantara, Nuryati (kanan) dan Pedah Nur Rahmiati (kiri) memperlihatkan produk turunan batik di kawasan Masjid Negara IKN.

KALTIMPOST.ID, NUSANTARA - Sebelum kawasan ini menjadi wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), warga Desa Argomulyo, Sepaku, lebih dulu dikenal sebagai petani merica. Lada menjadi sumber penghidupan. Kebun-kebun merica pernah tumbuh subur, menjadi nadi penghidupan ekonomi keluarga.

Kini, kebun-kebun lada itu berganti sawit dan karet. Sejarah kejayaan lada coba dibangkitkan tapi lewat kain batik. Melalui kelompok pengrajin batik binaan Otorita IKN, yakni Batik Semoi Nusantara, karya mereka selalu diselingi butiran lada.

Digambarkan dalam pola yang berpadu dengan ornamen khas Nusantara dan elemen Kalimantan. Filosofinya sederhana, mengenang sumber ekonomi lama warga, sekaligus menegaskan identitas lokal di tengah perubahan besar kawasan.

“Dulu warga sini hidup dari berkebun merica. Sekarang sudah banyak tergantikan sawit dan karet. Jadi kami ingin merica itu tetap dikenang,” ujar Nuryati, Ketua Kelompok Batik Semoi Nusantara.

Kelompok ini terbentuk setelah warga mendapat pelatihan membatik selama 20 hari pada November 2023. Instrukturnya didatangkan langsung ke desa. Dari 16 orang peserta yang mayoritas ibu rumah tangga itu lahirlah kelompok usaha yang kini rutin memproduksi batik tulis, cap, dan kombinasi keduanya.

Setiap hari, aktivitas membatik berlangsung di Argomulyo. Untuk batik cap, produksi bisa mencapai 10 lembar per hari. Sedangkan batik tulis, tergantung tingkat kesulitan motif, berkisar empat hingga delapan lembar.

Harga yang ditawarkan bervariasi. Batik cap dibanderol mulai Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per lembar. Sementara batik tulis dan bahan sutra bisa mencapai Rp 750 ribu. Dalam sebulan, kelompok ini bisa menghasilkan omzet berkisar Rp 50 juta hingga Rp 75 juta.

Dengan itu, Batik Semoi jadi punggung penghidupan para anggota yang seluruhnya merupakan ibu-ibu rumah tangga. Nuryati sendiri bukan berlatar belakang pengrajin. Ia adalah pensiunan guru SD di Argomulyo pada 2021. Dua tahun kemudian, ia justru memulai babak baru sebagai penggerak usaha batik di kampungnya.

Ada juga, Pedah Nur Rahmiati, sekretaris sekaligus marketing. Pedah mengakui sebelum terjun pada dunia wastra Pedah merupakan Ibu rumah tangga. “Kami murni ibu rumah tangga. Tidak ada latar belakang usaha atau membatik sama sekali. Tapi setelah pelatihan, kami mulai belajar bagaimana produksi, menerima pesanan sampai memasarkan,” ujarnya.

Kini, pekerjaan dibagi rapi. Ada yang menggambar pola, mencanting, mewarnai, hingga mengecap. Untuk produk turunan seperti baju dan tas, mereka menggandeng penjahit lokal, termasuk ibu-ibu PKK yang memiliki keterampilan menjahit. Pemberdayaan itu meluas, tidak berhenti di satu kelompok saja.

Batik Semoi Nusantara pun mulai mendapat tempat di pasar. Pesanan datang dari berbagai dinas di tingkat kabupaten Paenajam Paser Uatara hingga kecamatan di Sepaku. Seragam batik instansi pemerintahan setempat sebagian telah menggunakan karya mereka. Galeri mereka juga kerap menjadi titik singgah tamu-tamu yang berkunjung ke kawasan IKN.

Meski demikian, Nuryati mengakui perjalanan ini masih panjang. Kelompoknya ingin naik kelas, tak sekadar menjual kain, tetapi juga mengembangkan turunan seperti tas, pouch, dan suvenir dari kain perca. Kendalanya ada pada keterbatasan sumber daya manusia dan pelatihan lanjutan.

“Kami ingin lebih berkembang. Bukan hanya kain, tapi turunannya juga. Supaya sisa kain bisa dimanfaatkan dan nilai tambahnya lebih besar,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Argomulyo #merica #ibu kota nusantara #IKN #Batik Semoi Nusantara #batik #lada