KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Peluncuran buku yang digagas SKK Migas Perwakilan Kalimantan-Sulawesi bersama para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menjadi upaya baru memperkenalkan kontribusi nyata industri hulu minyak dan gas bumi terhadap ekonomi daerah.
Buku tersebut tidak sekadar dokumentasi kegiatan industri, tetapi juga dirancang sebagai media edukasi publik mengenai dampak luas sektor energi terhadap kehidupan masyarakat.
Dalam peluncuran buku bertajuk Rekam Jejak Energi Migas Kalimantan dan Sulawesi, di Kampus STT Migas Balilpapan, Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan-Sulawesi Azhari Idris menjelaskan, buku tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap para pekerja lapangan sekaligus rekam jejak industri yang selama ini jarang diketahui masyarakat luas.
“Buku ini adalah bentuk ucapan terima kasih dan rekognisi terhadap pekerjaan kawan-kawan di lapangan. Apa yang sudah dicapai dan yang akan dicapai diterjemahkan, diungkapkan dalam tulisan dan foto, sehingga masyarakat bisa melihat dampak positif industri hulu migas terhadap ekonomi,” ungkapnya.
Menurutnya, aktivitas hulu migas tidak hanya berfokus pada produksi energi, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang besar di daerah operasi. Setiap hari, kegiatan industri memicu transaksi ekonomi, mulai dari jasa pendukung, logistik, hingga peluang usaha masyarakat sekitar.
Azhari menilai selama ini kontribusi ekonomi sektor migas sering kali tidak terlihat secara langsung oleh masyarakat. Padahal, keberlanjutan produksi energi menjadi salah satu fondasi stabilitas ekonomi nasional maupun daerah.
Ia menambahkan, buku tersebut juga mengangkat sisi kemanusiaan para pekerja migas yang bertugas di wilayah berisiko tinggi, termasuk mereka yang harus tetap bekerja saat momen penting seperti Ramadan.
“Mereka tidak bisa selalu pulang dan berbuka bersama keluarga karena menjaga keberlangsungan produksi. Banyak orang tidak mengetahui bagaimana kondisi kerja di lapangan,” katanya.
Ke depan, SKK Migas berharap buku ini dapat ditempatkan di kantor pemerintah daerah, kampus, hingga ruang publik agar menjadi sumber literasi energi. Azhari mengaku selama kunjungannya ke berbagai daerah, masih minim referensi lokal yang menceritakan sejarah industri migas di wilayah penghasil energi.
Ia menegaskan, industri migas telah hadir bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka, namun dokumentasi kontribusinya terhadap pembangunan daerah belum banyak tersedia. Melalui buku ini, SKK Migas ingin membuka pemahaman bahwa energi yang digunakan masyarakat sehari-hari merupakan hasil kerja panjang ribuan pekerja di lapangan.
"Harapannya, publik semakin memahami bahwa sektor migas bukan hanya industri ekstraksi, tetapi juga penggerak ekonomi dan pembangunan sosial di berbagai wilayah Indonesia," tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo