Status ini menandai turunnya peringkat Garuda yang sebelumnya sempat menyandang predikat maskapai bintang lima.
Penurunan tersebut dikaitkan dengan merosotnya standar produk selama masa restrukturisasi perusahaan. Meski kualitas layanan awak kabin dan staf darat dinilai masih solid, sejumlah aspek fasilitas dinilai tak lagi memenuhi kriteria bintang lima.
Dalam evaluasinya, Skytrax menilai berbagai komponen, mulai dari kenyamanan kursi, kelengkapan fasilitas (amenities), sajian makanan dan minuman, hiburan di dalam pesawat (in-flight entertainment/IFE), hingga kebersihan kabin.
Penilaian juga mencakup kualitas pelayanan di bandara dan interaksi langsung dengan penumpang.
Untuk penerbangan jarak jauh (long haul), baik kelas bisnis maupun ekonomi Garuda sama-sama mengantongi empat bintang. Hasil serupa juga berlaku pada rute jarak pendek (short haul), di mana seluruh kelas layanan berada pada level yang sama.
Program World Airline Star Rating milik Skytrax sendiri telah menjadi barometer mutu maskapai global selama lebih dari dua dekade.
Sertifikasi ini memetakan standar layanan dan produk maskapai dari berbagai negara, sehingga kerap dijadikan rujukan industri penerbangan internasional.
Editor : Uways Alqadrie