Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Serapan Bulog Terbatas, Harga Gabah Petani Tenggarong Masih Dikuasai Tengkulak

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 5 Maret 2026 | 14:17 WIB

GABAH: Ketergantungan pada tengkulak dan lemahnya pengelolaan pascapanen jadi persoalan klasik petani.
GABAH: Ketergantungan pada tengkulak dan lemahnya pengelolaan pascapanen jadi persoalan klasik petani.

KALTIMPOST.ID, TENGGARONG – Di balik peningkatan efisiensi produksi melalui teknologi, petani di Bukit Biru, Tenggarong masih menghadapi persoalan klasik. Ketergantungan pada tengkulak dan lemahnya pengelolaan pascapanen.

Abdul Sani, Ketua Poktan Sukamaju, mengakui bahwa kemandirian petani belum sepenuhnya tercapai, terutama dalam aspek ketahanan pangan menyeluruh.

Saat ini, Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA) Bukit Biru memang sudah memiliki sejumlah alat. Mulai dari rotavator untuk olah lahan, mesin tanam, drone untuk perawatan, hingga combine harvester untuk panen.

“Untuk pengolahan lahan itu punya rotavator. Untuk tanam, untuk menanam padi itu ada mesin tanam. Untuk perawatan itu kami sudah ada drone. Untuk panen itu kami ada combine, tapi setelah panen ini untuk memproduksi sendiri itu belum,” jelasnya.

Ketiadaan fasilitas pengolahan pascapanen membuat petani masih menjual gabah ke tengkulak. Di sinilah persoalan harga muncul.

“Setelah panen penjualan ini masih ke tengkulak dan tengkulak itu sering memainkan harga dengan kemauan mereka sendiri sehingga harga di tingkat petani ini rendah,” katanya.

Dia menilai, jika pascapanen bisa dikelola sendiri, posisi tawar petani akan jauh lebih kuat. “Jika petani itu dari awal sampai ke pasca panennya itu mampu mengelola sendiri maka petani ini akan lebih bisa mandiri untuk tidak bergantung ke pihak lain,” tegasnya.

Selain persoalan hilir, Sani juga menyoroti tantangan regenerasi. Mayoritas petani di Bukit Biru berusia di atas 40 tahun. “Regenerasinya ini enggak ada,” sambungnya.

Dia khawatir dalam 10-15 tahun ke depan, jumlah petani aktif akan terus berkurang. Harapannya, kehadiran teknologi bisa menarik minat generasi muda.

“Dengan ada teknologi ini mudah-mudahan bisa memancing anak muda itu mau kembali untuk regenerasi petani ke depan,” katanya.

Terkait penyerapan hasil panen, sebenarnya sudah ada kerja sama dengan Bulog. Namun volumenya masih terbatas. “Kami juga sebenarnya sudah ada kerja sama dengan Bulog cuma kan serapan Bulog ini kan enggak seberapa,” ujarnya.

Bagi Sani, kemandirian petani bukan hanya soal alat modern di hulu produksi, tetapi juga penguatan sistem dari tanam hingga distribusi. Tanpa itu, petani tetap berada pada posisi tawar yang lemah meski produktivitas meningkat. (*)

Editor : Duito Susanto
#Petani Tenggarong #hasil panen #Bukit Biru #kaltim #harga gabah #bulog