KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Dari dapur rumahan biasa, Euis Maryati menemukan jalan tak terduga. Siapa sangka, eksperimen empat bulan yang dilakoninya pada akhir 2019 justru melahirkan produk oleh-oleh khas yang kini terpajang di belasan titik penjualan, termasuk bandara.
Awalnya Euis hanya penjual kue rumahan. Dia mengaku sudah lama berkutat di dunia kuliner, khususnya kue kering dan kue ulang tahun. Namun semuanya masih bersifat hobi. “Sebelumnya memang suka bikin-bikin untuk dijual. Belum pakai nama brand yang sekarang, belum pakai nama Bunaga,” ujarnya.
Titik balik datang ketika dia mengikuti kelas bisnis yang digagas perusahaan tempat suaminya bekerja pada akhir 2019. Di kelas itu, peserta diminta menemukan ciri khas produk. Euis pun mulai mencari potensi lokal yang bisa diolah.
“Di kelas bisnis itu kan harus ada ciri khas. Potensi lokalnya apa. Akhirnya ya sekitar 4 bulanan lah ya sambil trial error gitu bikin produk baru,” tuturnya. Dari proses itulah lahir nastar isi selai buah naga merah. Ide dasarnya memang nastar, namun dengan isian berbeda dari pakem umumnya.
“Jadilah nastar Bunaga itu. Buah naga juga ada banyak di sini, ambilnya di petani yang ada di Balikpapan kilometer 20,” kata perempuan kelahiran 1986 tersebut.
Awal pemasaran dilakukan sederhana. Tanpa kemasan eksklusif, masih menggunakan kemasan biasa dan bentuk nastar kecil seperti pada umumnya. Respons pasar cukup baik karena unik dan memantik rasa penasaran.
Namun pandemi sempat membuat langkahnya terhenti. Dia kembali ke produksi kue rumahan berbasis pesanan. Momentum kebangkitan datang pada 2022 saat mengikuti program Anugerah Kreasi Indonesia (AKI).
“Saya daftar dan lolos sampai di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ikut bootcamp segala macam. Nah, mulai dari situ tuh sudah mulai mulai ini lah ya, agak-agak diubah packaging supaya lebih menarik,” ungkapnya.
Sejak saat itu, konsep produk benar-benar dipoles. Kemasan dibuat lebih praktis agar aman dibawa sebagai oleh-oleh. Euis memang sejak awal membidik segmen tersebut.
Kini, produk Bunaga tersedia di berbagai titik di Balikpapan, termasuk lima gerai di Bandara Sepinggan. Selain itu juga tersebar di sejumlah toko oleh-oleh lain serta merambah ke Tabalong, Kalimantan Selatan.
Produknya fokus pada dua varian yakni nastar buah naga sebagai unggulan dan nastar nanas sebagai alternatif. “Sampai sekarang isian buah naga unggulannya,” katanya. Euis memastikan buah naga yang digunakan asli dari petani Balikpapan.
“Jadi 100 persen tuh diolahnya buah naga asli Balikpapan. Jadi ya petani langsung,” tegasnya. Dengan konsistensi produksi hampir setiap hari dan penguatan branding sebagai oleh-oleh khas, Bunaga kini tak lagi sekadar kue rumahan. Telah menjelma menjadi ikon baru olahan buah naga Kota Minyak. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo