KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pariwisata dan perjalanan disebut menjadi sektor yang paling rentan terhadap dampak ketidakpastian global. Utamanya konflik di Timur Tengah.
Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Kaltim Ernawaty Gafar mengungkapkan, sejumlah anggota organisasinya yang bergerak di bidang travel mulai merasakan tekanan akibat situasi internasional yang belum stabil.
Menurutnya, sekitar 30 persen anggota Iwapi Kaltim memang bergerak di sektor travel, baik perjalanan haji maupun wisata. Kondisi global saat ini membuat aktivitas penerbangan terganggu, bahkan berdampak pada jamaah yang tertahan di sejumlah negara.
“Yang punya travel itu banyak, sekitar 30 persen. Kemarin saya dengar ada jamaah yang tertahan dan belum bisa dipulangkan. Mereka menunggu kemungkinan bisa diterbangkan,” tuturnya.
Ernawaty menjelaskan, gangguan penerbangan juga berdampak pada meningkatnya biaya operasional travel akibat tambahan akomodasi dan kebutuhan jamaah. Ia mencontohkan kasus penumpang yang sempat tertahan di Bali akibat penerbangan yang tertunda selama beberapa hari.
“Biaya yang seharusnya tidak ada jadi bertambah karena desakan jamaah dan situasi yang tidak diinginkan. Itu yang kita khawatirkan,” katanya.
Selain travel, Ernawaty menilai sektor lain seperti konstruksi dan logistik juga berpotensi terdampak karena berkaitan erat dengan mobilitas global dan rantai pasok. Oleh karena itu, ia meminta pelaku usaha tetap menjaga optimisme sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi situasi yang belum menentu.
“Kita jangan sampai kehilangan semangat. Justru kita harus menumbuhkan semangat teman-teman untuk tetap berusaha walaupun dalam keadaan seperti sekarang,” ucapnya.
Iwapi Kaltim juga terus mendorong anggotanya untuk memperkuat koordinasi dan saling berbagi informasi agar dapat merespons perubahan situasi secara cepat dan tepat. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo