BALIKPAPAN – Ketegangan geopolitik global hingga kebijakan suku bunga Amerika Serikat diperkirakan masih akan mendorong kenaikan harga emas dunia sepanjang 2026. Kondisi ini turut memicu peningkatan minat masyarakat untuk berinvestasi di instrumen emas.
Kepala Cabang PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) Balikpapan, Lydia Chandra, mengatakan konflik geopolitik yang melibatkan negara-negara di Timur Tengah hingga Amerika Serikat memberi dampak signifikan terhadap pergerakan harga komoditas global, terutama emas dan minyak.
Menurutnya, ketidakpastian geopolitik membuat investor global cenderung mencari instrumen investasi yang dianggap lebih aman, salah satunya emas.
Baca Juga: Bocoran Harga Emas Hari Ini 13 Maret 2026: Antam, UBS, Galeri24 Diprediksi Stabil Jelang Lebaran
“Kalau melihat kondisi geopolitik dunia saat ini, harga emas masih sangat berpeluang untuk naik. Bahkan targetnya tahun ini bisa mencapai sekitar USD 6.000 per troy ounce,” ujarnya usai menggelar buka bersama panti asuhan di Kantor RFB Balikpapan, Jumat (13/3/2026).
Saat ini harga emas dunia berada di kisaran USD 5.096 hingga USD 5.100 per troy ounce. Sebelumnya, harga sempat menyentuh rekor tertinggi di level sekitar USD 5.600 per troy ounce sebelum mengalami koreksi.
Lydia menjelaskan, koreksi harga tersebut merupakan hal yang wajar dalam pergerakan pasar. Pasalnya, selama setahun terakhir harga emas mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
“Dalam satu tahun terakhir kenaikan emas bisa mencapai sekitar 70 hingga 80 persen. Jadi kalau sekarang terjadi koreksi 10 sampai 20 persen itu masih sangat normal,” jelasnya.
Ia menambahkan, koreksi harga emas justru sering menjadi fase sebelum harga kembali bergerak naik lebih tinggi.
Selain faktor geopolitik, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve juga menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan harga emas.
Menurut Lydia, pada 2025 lalu suku bunga acuan Amerika dipotong sebanyak tiga kali. Kebijakan tersebut turut menjadi salah satu pemicu kenaikan harga emas dunia.
“Setiap ada pertemuan The Fed mengenai suku bunga, pasar biasanya langsung bergejolak. Tahun lalu pemotongan suku bunga tiga kali menjadi salah satu faktor yang membuat harga emas terus naik,” katanya.
Ia menilai pada 2026 ini pasar masih menunggu apakah The Fed akan kembali menurunkan suku bunga atau tidak. Jika pemotongan kembali dilakukan, peluang kenaikan harga emas dinilai semakin besar.
Selain emas, dinamika geopolitik juga berdampak pada harga minyak dunia. Salah satunya terkait potensi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz yang sempat memicu lonjakan harga energi global.
Minat Warga Balikpapan
Di sisi lain, kenaikan harga emas juga berdampak pada meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi. Hal tersebut terlihat dari bertambahnya jumlah investor di Balikpapan dalam beberapa waktu terakhir.
Lydia menyebut jumlah nasabah di Rifan Balikpapan mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau dibandingkan dengan 2024, jumlah investor yang bergabung pada 2025 meningkat sekitar 30 sampai 40 persen,” ujarnya.
Baca Juga: Trump Ngamuk Iran Pasang Ranjau di Selat Hormuz, Militer AS Langsung Hancurkan
Seiring bertambahnya jumlah investor, aktivitas transaksi juga ikut meningkat. Hal ini menunjukkan semakin tingginya minat masyarakat terhadap investasi berbasis komoditas.
Ia menambahkan, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap potensi investasi emas juga dipengaruhi oleh informasi yang semakin mudah diakses serta edukasi mengenai pasar komoditas.
Meski demikian, Lydia mengingatkan bahwa setiap investasi tetap memiliki risiko sehingga investor perlu memahami pergerakan pasar sebelum mengambil keputusan.
“Kami hanya memberikan analisa dan edukasi kepada nasabah. Keputusan untuk bertransaksi tetap ada di tangan masing-masing investor,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan