Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kisah Sukses Ida Syachruni, Berani Dobrak Pasar dengan Mukena Tanpa Motif

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 14 Maret 2026 | 20:23 WIB

KREATIF: Pengusaha batik Kaltim Ida Syachruni menciptakan busana mukena tanpa motif lahir dari refleksi sederhana tentang kekhusyukan beribadah.
KREATIF: Pengusaha batik Kaltim Ida Syachruni menciptakan busana mukena tanpa motif lahir dari refleksi sederhana tentang kekhusyukan beribadah.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Perjalanan kreatif seorang desainer sering kali berangkat dari keresahan personal. Namun, bagi pengusaha batik Kalimantan Timur Ida Syachruni, gagasan menciptakan busana mukena tanpa motif lahir dari refleksi sederhana tentang kekhusyukan beribadah.

Lewat brand barunya, Ida Saruni (IS), ia menghadirkan busana mukena minimalis berbahan sutra berkualitas tanpa motif sama sekali. Koleksi tersebut menjadi pembeda dibandingkan lini sebelumnya, Batik Vi, yang dikenal konsisten mengangkat motif khas Kalimantan.

“Kadang-kadang kalau kita salat, melihat bentuk-bentuk di mukena justru mengganggu konsentrasi. Itu pengalaman pribadi saya, bukan soal tren,” kata Ida.

Menurutnya, pendekatan desain tanpa motif bukan berarti mengurangi nilai estetika. Justru ia menekankan kualitas bahan, potongan sederhana dan nuansa elegan sebagai identitas utama.

Koleksi ini hadir dalam warna-warna lembut seperti blue, oatmilk army, gray, dan lavender. Ida menyebut konsep tersebut mulai dipersiapkan sejak akhir tahun lalu, 2025, lalu diproduksi secara terbatas hingga Januari 2026. Koleksi yang dirancang itu langsung mencuri perhatian.

Mukena berbahan sultra silk tersebut langsung diburu, apalagi lengkap dengan tas praktis yang dirancang untuk kebutuhan ibadah. Tas itu bisa digunakan membawa mukena, ponsel, hingga perlengkapan kecil saat ke masjid atau bepergian umrah dan haji.

Respons pasar dinilai Ida cukup positif. Dalam dua minggu sejak diperkenalkan secara terbatas, sekitar separuh stok sudah terjual. “Alhamdulillah, baru dua minggu sudah habis separuh. Artinya pasar menerima dengan baik,” katanya.

Sebenarnya bukan hanya mukena, Ida juga tengah mempersiapkan untuk memperkenalkan busana muslimah terbaru dari brand terbarunya tersebut juga. “Rencana ada baju muslimah juga yang memang untuk Idulfitri, tapi karena kesibukan, akhirnya launching kami tunda. Kemungkinan nanti diluncurkan sebelum Iduladha,” ujarnya.

Ke depan, Ida berencana lebih fokus mengembangkan lini busana muslim yang sederhana, praktis, dan elegan. Ida sengaja merilis koleksi dalam jumlah terbatas agar setiap pembeli merasa memiliki produk yang unik. “Kalau kamu beli ini, yang lain belum tentu dapat. Saya memang buat limited edition,” kata Ida.

Strategi tersebut bukan tanpa pengalaman. Dua tahun lalu, ia mengikuti ajang Ramadan Runway yang digelar APPMI di Jakarta. Saat itu ia mengaku hanya mencoba-coba memasuki pasar busana muslim tanpa ekspektasi tinggi.

Namun kejutan menghampirinya. Karya dia diapresiasi banyak orang saat itu. “Tadinya saya pasrah saja, kalau tidak laku ya sudah. Tapi tidak menyangka di hari ke-10 sudah terjual sekitar 250 piece,” ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu kunci keberhasilan saat itu adalah desain simpel elegan dengan harga lebih terjangkau dibandingkan desainer besar lain di ajang tersebut.

Jika rata-rata harga busana muslim desainer mencapai lebih dari Rp 2 juta ke atas, Ida kala itu menawarkan produk di kisaran Rp 1,25 juta. “Saya merasa belum punya nama, jadi pilih harga yang lebih masuk akal. Ternyata justru disambut baik,” katanya.

Pengalaman itu membentuk strategi bisnisnya saat ini. Untuk koleksi terbaru, ia menargetkan produksi sekitar 200 potong dengan menyasar pasar komunitas muslimah berhijab. “Sekarang saya lebih fokus bagaimana produk ini benar-benar diterima dan bermanfaat dengan baik bagi si pengguna,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan brand Ida Saychruni tidak akan mengangkat motif Kalimantan seperti Batik Vi, yang juga usaha lain miliknya. Menurutnya, masing-masing brand memiliki segmentasi berbeda agar tidak saling tumpang tindih. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#tanpa motif #koleksi #kisah sukses #mukena #busana #Ida Syachruni