KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja sektor pertambangan dan penggalian di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menunjukkan perbaikan pada akhir 2025. Setelah sempat terkontraksi pada periode sebelumnya, sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah tersebut kembali mencatatkan pertumbuhan pada triwulan IV 2025.
Lapangan usaha (LU) pertambangan dan penggalian pada triwulan IV 2025 tumbuh 0,45 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang masih mengalami kontraksi.
“Meningkat dibandingkan dengan kondisi pada periode sebelumnya yang mengalami kontraksi -0,19 persen (yoy),” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan.
Perbaikan kinerja sektor pertambangan juga tercermin dari peningkatan ekspor batu bara. Pada periode laporan, volume ekspor komoditas tersebut tercatat tumbuh 0,93 persen (yoy).
Menurut Jajang, peningkatan tersebut tidak terlepas dari membaiknya permintaan dari negara mitra dagang Indonesia, khususnya untuk memenuhi kebutuhan energi selama musim dingin.
Dari sisi negara mitra dagang, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh perkembangan produksi batu bara di Tiongkok. Pada triwulan IV 2025, produksi batu bara domestik negara tersebut tercatat mengalami kontraksi -0,63 persen (yoy).
Kondisi tersebut membuka peluang bagi negara pemasok lain, termasuk Indonesia, untuk mengisi kebutuhan tambahan pasokan energi. Hal itu turut mendukung kinerja ekspor batu bara nasional, termasuk dari wilayah Kaltim.
Sejalan dengan dinamika di sektor pertambangan, penyaluran kredit kepada sektor itu juga menunjukkan tren perbaikan. Pada triwulan IV 2025, kredit sektor pertambangan tercatat -0,60 persen (yoy). Meski masih berada di zona kontraksi, angka tersebut dinilai lebih baik dibandingkan periode sebelumnya yang terkontraksi -11,90 persen yoy.
Namun demikian, peningkatan produksi batu bara pada periode laporan belum sepenuhnya optimal. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor cuaca yang cukup signifikan di wilayah tambang Kaltim.
Pada triwulan IV 2025, curah hujan di Kaltim tercatat mencapai 317,7 milimeter per bulan, atau berada di atas rata-rata curah hujan tahunan. “Hal tersebut memengaruhi kelancaran aktivitas penambangan dan logistik di areal penambangan,” ujarnya.
Akibatnya, peningkatan produksi yang terjadi pada periode laporan tidak dapat sepenuhnya mengikuti potensi permintaan yang tersedia di pasar global.
Secara keseluruhan, kinerja sektor pertambangan Kaltim pada triwulan IV 2025 dinilai tetap membaik. Peningkatan permintaan global menjadi faktor utama yang menopang sektor itu, meskipun aktivitas produksi masih menghadapi penyesuaian operasional akibat faktor cuaca. (*)
Editor : Duito Susanto