Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Gaya Hidup Praktis Dorong Lonjakan Konsumsi Makanan Siap Saji di Kaltim

Raden Roro Mira Budi Asih • Senin, 30 Maret 2026 | 17:09 WIB

SIAP SAJI: Porsi terbesar pengeluaran makanan ada pada makanan dan minuman jadi. Mencapai 31,80 persen, hampir sepertiga total belanja makanan.
SIAP SAJI: Porsi terbesar pengeluaran makanan ada pada makanan dan minuman jadi. Mencapai 31,80 persen, hampir sepertiga total belanja makanan.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pola konsumsi masyarakat Kalimantan Timur mulai bergeser. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 menunjukkan kecenderungan meningkatnya konsumsi makanan praktis dan siap saji di tengah aktivitas masyarakat yang semakin padat.

Perubahan itu menjadi salah satu indikator penting dalam membaca dinamika sosial ekonomi masyarakat. Data menunjukkan, porsi terbesar pengeluaran makanan masyarakat Kaltim berada pada kelompok makanan dan minuman jadi, yakni mencapai 31,80 persen. Artinya, hampir sepertiga total belanja makanan digunakan untuk membeli makanan siap saji.

Fenomena yang mengindikasikan pergeseran pola konsumsi dari memasak sendiri ke konsumsi yang lebih praktis. Selain dipengaruhi keterbatasan waktu, gaya hidup modern juga turut mendorong masyarakat memilih opsi yang lebih cepat dan efisien.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai menyebut urutan kedua, pengeluaran terbesar berasal dari kelompok ikan, udang, cumi, dan kerang dengan porsi 11,06 persen. Peningkatan itu tidak lepas dari faktor musiman, terutama karena periode Ramadan yang berlangsung sepanjang Maret 2025.

Konsumsi protein hewani cenderung meningkat seiring perubahan pola makan rumah tangga selama bulan puasa. Selain itu, pengeluaran untuk rokok tercatat 10,52 persen, diikuti kelompok padi-padian sebesar 9,80 persen. Sementara kelompok makanan lainnya memiliki kontribusi di bawah sembilan persen.

Menariknya, pengeluaran untuk padi-padian yang diolah sendiri justru lebih rendah dibandingkan makanan siap saji. Semakin menegaskan adanya pergeseran preferensi konsumsi masyarakat ke arah kepraktisan.

"Fenomena perubahan pola konsumsi masyarakat juga terjadi baik di perkotaan ataupun perdesaan. Rata-rata pengeluaran kelompok komoditas makanan dan minuman jadi penduduk daerah perkotaan Rp334.018 atau 34,58 persen dari total pengeluaran makanan," ungkap Mas’ud saat rilis data baru-baru ini. Sementara di perdesaan, angkanya Rp235.074 atau 25,18 persen.

Tidak hanya pada sektor makanan, pola pengeluaran juga terlihat pada kebutuhan nonmakanan. Kelompok perumahan dan fasilitas rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 54,27 persen. Artinya, lebih dari separuh belanja nonmakanan dialokasikan untuk kebutuhan tempat tinggal dan penunjangnya.

Selanjutnya, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa mencapai 21,41 persen, sementara kelompok lainnya berada di bawah sepuluh persen. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#makanan siap saji #pola konsumsi masyarakat #kalimantan timur