KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Kinerja APBN regional Kalimantan Timur pada awal 2026 menunjukkan dinamika yang cukup kontras. Di satu sisi, penerimaan negara mengalami tekanan, di sisi lain belanja justru tumbuh positif dan tetap ekspansif.
Hingga 28 Februari 2026, realisasi pendapatan negara tercatat Rp 2,8 triliun atau sekitar 6,40 persen dari target tahun ini yang mencapai Rp 43,88 triliun. Secara tahunan, capaian tersebut mengalami kontraksi 4,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala Kantor Wilayah Direktor Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Kaltim Tjahjo Purnomo menjelaskan, kontraksi tersebut menjadi sinyal adanya tekanan pada kinerja penerimaan, khususnya dari sektor perpajakan yang masih mendominasi struktur pendapatan negara.
Namun, dari sisi belanja negara justru menunjukkan tren yang berlawanan. Realisasi belanja hingga Februari mencapai Rp 5,04 triliun atau 12,30 persen dari pagu Rp40,99 triliun. Kondisi tersebut menegaskan peran APBN sebagai instrumen stabilisasi ekonomi. Ketika penerimaan mengalami tekanan, belanja negara tetap didorong untuk menjaga aktivitas ekonomi di daerah.
“Dari sisi belanja ini sudah mencapai Rp 5,04 triliun dan mengalami pertumbuhan sebesar 5,89 persen,” jelas Tjahjo, Senin (30/3). Dia menambahkan, pola seperti itu umum terjadi di awal tahun. Namun pemerintah tetap berupaya menjaga keseimbangan antara penerimaan dan belanja agar pertumbuhan ekonomi daerah tetap terjaga.
"Kita juga mendorong percepatan belanja, sosialisasi. Supaya tidak menumpuk di akhir," lanjutnya. Dengan kondisi tersebut, APBN diharapkan mampu menjadi penyangga utama ekonomi Kaltim, terutama dalam menghadapi dinamika global dan domestik yang masih berfluktuasi. (*)
Editor : Dwi Restu A