KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Gejolak pasar global kembali terjadi seiring konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran yang telah memasuki pekan kelima. Lonjakan harga minyak dunia dan tekanan di pasar saham Asia menjadi sinyal meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan menembus USD115,20 per barel atau naik lebih dari 3 persen. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) ikut menguat ke posisi USD101,62 per barel.
Kenaikan tajam ini menjadikan harga Brent mencatat lonjakan bulanan terbesar dalam beberapa waktu terakhir, setelah sebelumnya masih berada di kisaran USD72 pada akhir Februari.
Di sisi lain, pasar saham Asia mengalami tekanan signifikan. Indeks Nikkei 225 Jepang turun sekitar 2,8 persen, sedangkan Kospi Korea Selatan melemah hampir 3 persen.
Kondisi ini dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi terganggunya pasokan energi global, terutama bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah.
Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman ikut terlibat dengan melancarkan serangan ke Israel. Iran pun memperingatkan akan memperluas aksi balasan yang menargetkan kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya.
Baca Juga: Prediksi Harga Emas Hari Ini Rabu 1 April 2026: Antam Melemah, Galeri24 & UBS Diproyeksi Naik
Situasi semakin panas setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka kemungkinan penguasaan fasilitas energi strategis Iran, termasuk di Pulau Kharg.
Pernyataan tersebut dinilai dapat memperkeruh konflik dan memperbesar risiko gangguan distribusi energi dunia.
Editor : Uways Alqadrie