KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kalimantan Timur terus menunjukkan geliat positif pada awal 2026. Program pembiayaan tersebut menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam mendorong pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hingga Februari 2026, realisasi penyaluran KUR di Kaltim tercatat mencapai Rp 785,62 miliar dengan jumlah debitur sebanyak 9.537 pelaku usaha. Sementara itu, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) juga turut berkontribusi dengan nilai penyaluran Rp 18,60 miliar kepada 2.954 debitur.
Disebutkan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Kaltim Tjahjo Purnomo, penyaluran terbesar KUR terjadi di Kutai Kartanegara (Kukar). Wilayah tersebut dinilai memiliki basis usaha produktif yang cukup kuat dibandingkan daerah lain.
“Penyaluran KUR didominasi Kutai Kartanegara karena basis pelaku usaha produktif seperti pertanian, perkebunan, dan perdagangan lebih banyak tersebar di wilayah tersebut,” ujarnya.
Selain Kukar, Kota Tepian alias Samarinda juga mencatat penyaluran cukup tinggi yakni Rp 151,51 miliar, disusul Paser yakni Rp 108,59 miliar. Di belakangnya, Balikpapan turut berkontribusi dengan nilai penyaluran Rp 107,86 miliar.
“Dari sisi sektor usaha, perdagangan besar dan eceran menjadi penyerap KUR terbesar dengan nilai mencapai Rp 261,54 miliar dan 3.360 debitur,” lanjut Tjahho. Sektor tersebut dinilai memiliki perputaran usaha yang cepat serta risiko relatif lebih rendah sehingga lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan.
“Perdagangan menjadi dominan karena perputaran usaha cepat dan lebih mudah diakses pembiayaannya oleh perbankan,” jelas Tjahjo. Selain perdagangan, sektor pertanian, kehutanan, dan perburuan juga menyerap KUR senilai Rp 216,81 miliar, diikuti sektor jasa seperti real estate dan persewaan.
Sementara itu, untuk pembiayaan ultra mikro, sektor perdagangan juga masih mendominasi dengan nilai Rp 17,84 miliar. Menunjukkan tingginya aktivitas usaha kecil berbasis rumah tangga di daerah.
Dari sisi penyaluran, Bank Rakyat Indonesia (BRI) memegang porsi terbesar. “Karena memang bisa dibilang BRI itu ada sampai di pelosok, jadi lebih menjangkau debitur. Kreditnya mencapai Rp 450,99 miliar lewat BRI dengan 6.933 debitur,” terangnya.
Disusul Mandiri dengan Rp 178,84 miliar dan menyasar 1.573 debitur. Di posisi ketiga masih kelompok Bank Himbara yaitu BNI dengan Rp 74,07 miliar dan 343 debitur. Disusul bank lainnya. “Ada sekitar 11 perbankan,” sebutnya.
Tjahjo menegaskan bahwa program pembiayaan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat permodalan UMKM, khususnya bagi pelaku usaha yang belum sepenuhnya terjangkau layanan perbankan. (*)
Editor : Sukri Sikki