BALIKPAPAN - Ketidakpastian kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai membayangi industri pariwisata, khususnya pelaku usaha perjalanan yang bergantung pada transportasi lintas moda.
Pelaku usaha kini berada dalam posisi menunggu sekaligus waspada terhadap potensi lonjakan biaya operasional yang dapat berdampak langsung pada harga paket wisata.
Pemilik Trans Borneo Adventure Tours Joko Purwanto, menilai bahwa sektor pariwisata menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap kenaikan BBM. Hal ini disebabkan tingginya ketergantungan pada transportasi darat, laut, dan udara dalam setiap paket perjalanan.
“Kalau dampak dari kenaikan BBM pasti akan berdampak yang sangat krusial sekali, karena operasional kita menggunakan transportasi baik darat, laut, maupun udara,” ungkapnya.
Baca Juga: Hasil Akhir Persiba vs Persipura 0-1: Beruang Madu Tumbang Dramatis di Pengujung Laga
Menurutnya, pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM bisa mencapai 20 hingga 25 persen. Jika skenario serupa terjadi di Indonesia, maka seluruh komponen biaya perjalanan berpotensi ikut terdorong naik, mulai dari tiket transportasi hingga layanan pendukung lainnya.
Meski hingga kini belum ada keputusan resmi dari pemerintah terkait kenaikan BBM, pelaku usaha mulai menyusun skenario antisipasi. Salah satunya dengan menahan harga sementara waktu untuk menjaga minat pasar, sambil menunggu kepastian kebijakan.
“Kalau ada kenaikan BBM pasti cost operational itu akan naik, jadi semua komponen harga juga akan naik. Kita sekarang masih menunggu keputusan pemerintah,” katanya.
Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi dilema dalam penentuan harga. Untuk pelanggan yang telah melakukan pemesanan dan pembayaran uang muka, pelaku usaha tidak dapat serta-merta menaikkan harga karena telah terikat kesepakatan awal. Hal ini berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan.
Namun, untuk pemesanan baru, revisi harga menjadi opsi yang tak terhindarkan. Kenaikan harga diperkirakan akan mulai diberlakukan setelah ada kepastian kebijakan, sehingga pelaku usaha dapat menyesuaikan struktur biaya secara lebih akurat.
"Situasi ini mencerminkan rapuhnya daya tahan industri pariwisata terhadap fluktuasi energi. Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, kenaikan BBM berpotensi menekan daya beli wisatawan sekaligus memperlambat pemulihan sektor pariwisata nasional," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo