KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Industri pariwisata tidak hanya menghadapi ancaman dari dalam negeri, tetapi juga tekanan eksternal berupa terganggunya jaringan penerbangan internasional.
Pembatalan dan keterbatasan armada dari maskapai Timur Tengah menjadi pukulan serius bagi arus wisatawan mancanegara ke Indonesia.
“Yang pesawat-pesawat dari luar itu yang menggunakan pesawat dari Timur Tengah banyak yang cancel, itu dampaknya sangat luar biasa,” beber pemilik Trans Borneo Adventure Tours Joko Purwanto.
Dirinya mengungkapkan bahwa dampak gangguan penerbangan tersebut sudah mulai dirasakan secara signifikan, terutama dari pasar Eropa dan Amerika.
Baca Juga: Hasil Akhir Persiba vs Persipura 0-1: Beruang Madu Tumbang Dramatis di Pengujung Laga
Ia menjelaskan, maskapai dari kawasan Timur Tengah selama ini menjadi tulang punggung konektivitas wisatawan internasional menuju Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ketika penerbangan dari maskapai seperti Emirates atau Etihad terganggu, maka pilihan rute alternatif menjadi sangat terbatas.
Kondisi ini memicu lonjakan permintaan pada maskapai lain seperti Singapore Airlines, Malaysia Airlines, maupun KLM. Namun, keterbatasan kursi membuat banyak wisatawan kesulitan mendapatkan penerbangan pengganti.
Akibatnya, tidak sedikit wisatawan yang memilih menunda perjalanan atau bahkan membatalkan kunjungan. Sebagian lainnya terpaksa mengubah jadwal perjalanan ke tahun berikutnya karena tidak mendapatkan tiket.
“Kalau tamu asing masuk ke Indonesia itu banyak yang merubah schedule karena tidak ada pesawat. Bahkan ada yang extend ke tahun berikutnya,” jelasnya.
Baca Juga: Gudang Beras 1.000 Ton Bakal Dibangun di Kubar, Pemkab dan Bulog Tinjau Lahan di Ngenyan Asa
Selain itu, tekanan biaya juga datang dari luar negeri. Mitra agen perjalanan di negara tujuan telah lebih dulu menaikkan biaya operasional, seperti di Thailand yang mengalami kenaikan hingga 20–25 persen, serta Malaysia sekitar 15–20 persen.
Kenaikan ini berdampak langsung pada harga paket wisata internasional yang dijual oleh agen di Indonesia. Bahkan, penyesuaian harga untuk perjalanan ke luar negeri dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 Mei mendatang.
“Untuk yang keluar negeri sudah ada kenaikan karena ground handling di luar negeri sudah naik,” katanya.
Meski demikian, pelaku usaha masih berupaya menjaga stabilitas harga untuk pasar domestik sambil menunggu perkembangan lebih lanjut. Namun, kombinasi tekanan global dan ketidakpastian kebijakan domestik membuat industri pariwisata berada dalam situasi penuh tantangan.
"Jika kondisi ini berlanjut, bukan hanya arus wisatawan yang terganggu, tetapi juga potensi devisa dari sektor pariwisata yang ikut terancam," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo