KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Sektor properti komersial di Balikpapan belum menunjukkan tanda pemulihan. Bahkan, pada triwulan IV 2025, kinerjanya semakin tertekan dibandingkan periode sebelumnya.
Data Bank Indonesia mencatat, Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) mengalami kontraksi sebesar 0,36 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang turun 0,31 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengungkapkan bahwa pelemahan terjadi hampir di seluruh segmen. Mulai dari perkantoran, hotel, hingga apartemen. “Penurunan ini terjadi hampir di semua segmen. Hanya sektor ritel yang relatif stabil di tengah tekanan pasar,” ujarnya.
Baca Juga: BPK Mulai Audit Terperinci Pemkot Samarinda, Ternyata Ini yang Ditargetkan
Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah turunnya permintaan akomodasi hotel. Kebijakan efisiensi pemerintah, termasuk pembatasan kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) di luar fasilitas pemerintah, berdampak langsung pada tingkat hunian.
Tidak hanya itu, dinamika proyek strategis nasional juga ikut memengaruhi. Penyelesaian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) serta tahap pertama pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menyebabkan berkurangnya aktivitas pekerja di Balikpapan.
“Kondisi tersebut berdampak pada penurunan permintaan apartemen dan ruang perkantoran,” jelasnya.
Permintaan sewa apartemen yang melemah semakin mempertegas tren perlambatan di sektor ini. Hal serupa juga terjadi pada properti perkantoran, yang mengalami tekanan akibat menurunnya kebutuhan ruang kerja.
Baca Juga: Pemprov Kaltim Pangkas Perjalanan Dinas ASN hingga 50 Persen, Ikuti Instruksi Efisiensi Kemendagri
Meski demikian, prospek jangka menengah dinilai masih positif. Seiring berlanjutnya pembangunan IKN tahap kedua dan meningkatnya investasi di sektor hilirisasi, permintaan properti komersial diperkirakan akan kembali pulih.
Bank Indonesia pun terus memperkuat kebijakan makroprudensial guna mendukung sektor tersebut. Salah satunya melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diarahkan untuk mendorong pembiayaan sektor prioritas, termasuk properti.
“Stimulus ini diharapkan dapat meningkatkan penyaluran kredit dan mendukung pemulihan sektor properti secara berkelanjutan,” tutup Robi.
Dengan kombinasi kebijakan dan prospek ekonomi yang membaik, sektor properti komersial Balikpapan diyakini akan kembali bergairah dalam beberapa tahun ke depan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo