KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tekanan inflasi di Kalimantan Timur kembali menguat pada penghujung 2025. Memasuki triwulan IV, lonjakan permintaan saat momentum libur akhir tahun serta gangguan pasokan akibat cuaca menjadi pemicu utama kenaikan harga di sejumlah komoditas.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan, realisasi inflasi Kaltim pada triwulan IV 2025 tercatat 2,68 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yakni 1,77 persen (yoy).
“Peningkatan inflasi terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ujarnya.
Dia merinci, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan inflasi 4,72 persen (yoy) dengan andil 1,40 persen (yoy) terhadap inflasi keseluruhan. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi cukup tinggi, yakni 12,55 persen (yoy) dengan kontribusi 0,82 persen (yoy).
Meski demikian, laju inflasi yang lebih tinggi masih tertahan oleh deflasi pada sejumlah kelompok pengeluaran. “Deflasi terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga,” jelasnya, Senin (6/4).
Adapun masing-masing kelompok tersebut mencatatkan deflasi 1,43 persen (yoy) dan 1,22 persen (yoy), sehingga turut meredam tekanan inflasi secara keseluruhan.
Jajang menambahkan, peningkatan tekanan inflasi tidak hanya berasal dari sisi permintaan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor pasokan. Dari sisi demand, kenaikan terjadi seiring meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Peningkatan aktivitas belanja masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru mendorong kenaikan harga, khususnya pada kelompok bahan makanan,” katanya.
Selain itu, komoditas emas perhiasan juga menjadi salah satu penyumbang inflasi. Kenaikan harga emas global berdampak langsung pada harga di tingkat domestik, sehingga turut mendorong inflasi tahunan.
Dari sisi pasokan, tekanan inflasi dipicu oleh anomali cuaca yang berdampak pada produksi dan distribusi komoditas pangan. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan dari daerah sentra mengalami penurunan.
Beberapa komoditas yang terdampak antara lain bawang merah dan cabai rawit. Gangguan produksi serta distribusi membuat harga kedua komoditas tersebut mengalami kenaikan pada triwulan IV 2025. (*)
Editor : Ismet Rifani