KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Peta inflasi di Pulau Kalimantan pada akhir 2025 menunjukkan dinamika yang tidak merata. Meski mayoritas provinsi mengalami kenaikan, selisih capaian inflasi antarwilayah cukup mencolok, dengan Kalimantan Selatan berada di level tertinggi dan Kalimantan Barat justru paling rendah.
Secara umum tekanan inflasi di regional Kalimantan meningkat pada triwulan IV 2025. Namun, terdapat satu provinsi yang tidak mengikuti tren tersebut. “Secara regional Kalimantan, rata-rata semua provinsi mengalami peningkatan inflasi pada triwulan IV 2025 kecuali Kalimantan Barat,” ujarnya.
Dia merinci, inflasi di Kalimantan Barat tercatat 1,85 persen (year-on-year/yoy), menjadi yang terendah di kawasan. Sementara itu, Kalimantan Utara berada di angka 2,58 persen (yoy), disusul Kalimantan Timur (Kaltim) 2,68 persen (yoy). Adapun inflasi yang lebih tinggi tercatat di Kalimantan Tengah 3,14 persen (yoy), dan Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi yakni 3,66 persen (yoy).
Di Kaltim, tekanan inflasi juga terjadi hampir merata. "Secara spasial, inflasi di seluruh Kabupaten/Kota IHK di Kaltim tercatat meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya kecuali Penajam Paser Utara," papar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan.
Dari sisi komoditas, peningkatan tekanan inflasi masih didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok itu menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga di berbagai daerah.
Pada triwulan IV 2025, Berau mencatat inflasi tertinggi di Kaltim 2,82 persen (yoy). Disusul Balikpapan dengan inflasi 2,71 persen (yoy), serta Samarinda 2,70 persen (yoy).
Sementara itu, Penajam Paser Utara mencatat inflasi terendah sebesar 2,08 persen (yoy), sekaligus menjadi satu-satunya daerah yang tidak mengalami peningkatan tekanan inflasi pada periode tersebut.
Jajang menambahkan, perbedaan capaian inflasi antar daerah mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan yang beragam. Meski begitu, secara umum tekanan inflasi tetap meningkat dengan kontribusi terbesar berasal dari komoditas pangan. (*)
Editor : Ismet Rifani