KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja impor Kalimantan Timur pada Februari 2026 mengalami penurunan tajam. Melemahnya permintaan, terutama pada komoditas energi, menjadi faktor utama yang menekan nilai impor secara bulanan maupun tahunan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mengungkapkan nilai impor pada Februari 2026 nilainya USD347,44 juta. Turun signifikan 45,51 persen dibandingkan Januari 2026. Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Kaltim, Ariyanti Cahyaningsih, menjelaskan bahwa penurunan impor dipicu oleh kontraksi pada dua kelompok utama, yakni migas dan nonmigas.
“Penurunan nilai impor disebabkan karena turunnya nilai impor migas dan nonmigas masing-masing sebesar 55,11 persen dan 59,51 persen,” ujarnya. Secara rinci, nilai impor migas pada Februari 2026 yakni USD262,23 juta. Jauh lebih rendah dibandingkan Januari 2026 yang mencapai USD584,22 juta. Penurunan tajam itu menjadi kontributor terbesar terhadap anjloknya total impor Kaltim.
Baca Juga: Gadget Bikin Resah! DPRD Balikpapan Dukung PP Tunas 2025, Akses Anak ke Medsos Bakal Dibatasi
Sementara itu, impor nonmigas justru menunjukkan peningkatan secara bulanan. Nilainya naik menjadi USD85,21 juta dari sebelumnya USD53,42 juta pada Januari 2026. Meski demikian, secara tahunan kinerja impor tetap mengalami tekanan. Jika dibandingkan Februari 2025, total impor Kaltim turun 26,38 persen.
Ariyanti mengatakan, penurunan secara tahunan terjadi baik pada sektor migas maupun nonmigas. “Penurunan tersebut disebabkan karena penurunan impor migas 16,68 persen dan penurunan impor nonmigas 45,80 persen,” jelasnya.
Lebih lanjut, dia merinci bahwa tidak semua komoditas migas mengalami pelemahan. Pada Februari 2026, hanya impor minyak mentah yang mencatatkan peningkatan.
“Peningkatan nilai impor migas hanya terjadi pada komoditas minyak mentah yang mengalami peningkatan 7,42 persen. Sebaliknya, impor hasil minyak dan gas mengalami penurunan masing-masing 33,72 persen dan 50,15 persen,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo