KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kran impor nonmigas Kaltim pada Februari 2026 mengucur deras. Tak tanggung-tanggung, nilai impor melonjak tajam hingga 86,14 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan signifikan ini menjadi sinyal kuat kembali bergeliatnya aktivitas industri di Bumi Etam yang membutuhkan pasokan barang dari mancanegara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, total nilai impor dari 13 negara utama menembus angka USD 76,43 juta. Jika dikomparasi dengan Januari 2026, terjadi lompatan sebesar USD 35,37 juta.
“Kondisi ini dipengaruhi naiknya nilai impor dari beberapa negara utama, seperti Malaysia yang naik USD14,36 juta, Maroko USD7,80 juta dan Britania Raya USD7,06 juta,” ujar Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Kaltim, Ariyanti Cahyaningsih.
Yang mencengangkan adalah persentase kenaikan dari Negeri Jiran. Impor dari Malaysia meroket hingga 407,95 persen hanya dalam waktu satu bulan. Dari yang semula hanya USD 3,52 juta di Januari, melesat menjadi USD 17,88 juta pada Februari.
Baca Juga: Bukan Tipuan! Astra Motor Kaltim 1 Tebar Promo April Mop, Boyong Honda Scoopy Cukup Cicil 300 Ribuan
Setali tiga uang, Maroko juga mencatatkan kenaikan ekstrem dari angka yang nyaris nihil di Januari menjadi USD 7,84 juta. Kenaikan signifikan juga terjadi pada impor dari Britania Raya yang meningkat dari USD0,82 juta menjadi USD7,88 juta.
Secara kawasan, meski negara-negara di luar ASEAN dan Uni Eropa masih mendominasi, kontribusi kedua blok tersebut tetap tak bisa dipandang sebelah mata. Sepanjang dua bulan pertama tahun 2026, ASEAN menyumbang 26,09 persen (USD 36,17 juta) terhadap total impor nonmigas Kaltim. Sementara Uni Eropa mengekor dengan kontribusi 20,68 persen (USD 28,67 juta).
Dari sisi negara asal barang, Tiongkok masih menjadi mitra utama dalam pemenuhan impor nonmigas Kaltim. “Dilihat dari peranannya terhadap total impor nonmigas, kontribusi terbesar negara asal barang didominasi oleh Tiongkok USD33,49 juta atau 24,16 persen, diikuti Malaysia USD21,40 juta dan Amerika Serikat USD11,57 juta,” jelasnya.
Meski demikian, secara bulanan impor dari Tiongkok justru mengalami sedikit penurunan yakni 6,75 persen. Penurunan juga terjadi pada beberapa negara lain seperti Amerika Serikat dan India. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo