KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Di tengah tekanan global yang kian meningkat, stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga. Hal itu disampaikan Kepala Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (OJK Kaltim-Kaltara) Misran Pasaribu merujuk hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini.
“Kinerja perekonomian global ke depan dihadapkan pada ketidakpastian yang meningkat seiring dengan eskalasi tensi geopolitik di kawasan Teluk, telah meningkatkan risiko terhadap stabilitas global,” katanya.
Menurut dia, perkembangan tersebut berdampak langsung pada sektor energi global. Gangguan operasional infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah bahkan memicu penutupan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi dunia. Kondisi itu mendorong lonjakan harga energi dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.
Misran menambahkan, proyeksi ekonomi global yang sebelumnya menguat kini mengalami koreksi. Lembaga internasional seperti OECD dalam Interim Economic Outlook Maret 2026 mencatat perubahan tersebut.
“Memproyeksikan prospek perekonomian global berada pada jalur penguatan sebelum terjadinya perang, namun kini mengalami koreksi akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah,” ujarnya.
Tekanan global tersebut turut mempersempit ruang kebijakan moneter bank sentral dunia dan memunculkan kembali ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
“Tingginya ketidakpastian global dan tekanan harga energi juga mempersempit ruang kebijakan moneter bagi bank sentral global, sekaligus kembali memunculkan ekspektasi high for longer,” katanya.
Dari sisi domestik, kondisi ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Inflasi inti pada Maret 2026 tercatat menurun, sementara konsumsi masyarakat tetap kuat di awal tahun. “Tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89 persen yoy serta kinerja penjualan kendaraan bermotor yang solid,” ungkapnya.
Sementara dari sisi produksi, aktivitas ekonomi masih berada pada zona ekspansi meski mulai menunjukkan moderasi. “Dari sisi penawaran, kinerja ekonomi tetap positif meskipun menunjukkan moderasi, yang tercermin dari PMI manufaktur yang masih ekspansif,” tuturnya.
Ketahanan eksternal juga dinilai tetap kuat, ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta surplus neraca perdagangan.
Editor : Muhammad Ridhuan