Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Piala Dunia 2026

Inflasi Balikpapan Melandai tapi Harga Bensin dan Cabai Tetap "Pedas" Selama Ramadan, Ini Pemicunya

Ulil Mu'Awanah • Jumat, 10 April 2026 | 21:46 WIB
PASOKAN KURANG: Kondisi laut yang kurang bersahabat memaksa nelayan mengurangi aktivitas melaut, yang secara otomatis memangkas suplai ikan di pasar lokal. DOK/JP
PASOKAN KURANG: Kondisi laut yang kurang bersahabat memaksa nelayan mengurangi aktivitas melaut, yang secara otomatis memangkas suplai ikan di pasar lokal. DOK/JP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Di tengah lonjakan konsumsi masyarakat selama bulan suci Ramadan, gerak inflasi di "Kota Minyak" Balikpapan justru menunjukkan tren yang melandai.

Pada Maret 2026, kota ini mencatatkan inflasi sebesar 0,51 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tekanan harga pada Februari sebelumnya.

Meski melandai, angka inflasi tahunan Balikpapan tetap kokoh di level 2,95 persen (year-on-year). Menariknya, angka ini masih berada di bawah rata-rata inflasi nasional yang menyentuh 3,48 persen.

Data dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi motor penggerak utama inflasi dengan andil sebesar 0,40 persen.

Baca Juga: Pengelolaan Tangga Arung Square di Kukar Dirombak Total, Janjikan Lebih Adil

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi mengungkapkan bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas strategis menjadi faktor dominan. Penyesuaian harga bensin Pertamax sebesar Rp 500 per liter sejak awal Maret menjadi salah satu pemicunya.

Selain energi, urusan dapur juga memberikan tekanan hebat melalui meroketnya harga cabai rawit, ikan layang, daging ayam, hingga bahan bakar rumah tangga.

"Kenaikan harga bensin dan terganggunya pasokan cabai rawit dari daerah sentra seperti Jawa dan Sulawesi akibat cuaca ekstrem menjadi faktor utama," jelas Robi.

Kondisi laut yang kurang bersahabat juga memaksa nelayan mengurangi aktivitas melaut, yang secara otomatis memangkas suplai ikan di pasar lokal.

Baca Juga: Bajaj Online Sudah Beroperasi di Tenggarong, Pemkab Minta Tidak Jalan Dulu

Namun, daya beli masyarakat sedikit terselamatkan oleh deflasi pada sejumlah komoditas lain. Emas perhiasan, sayuran hijau, serta barang konsumsi non-pangan seperti parfum dan tas sekolah justru mengalami penurunan harga. Hal ini dipicu oleh strategi diskon besar-besaran dari para pelaku usaha guna menarik minat pembeli selama periode menjelang Idul Fitri.

Robi menilai, terjaganya stabilitas harga di tengah lonjakan permintaan musiman ini merupakan buah dari efektivitas sinergi pengendalian inflasi di daerah. Meski demikian, pemerintah dan otoritas terkait tetap memasang mode waspada.

Faktor cuaca yang tidak menentu dan kelancaran distribusi pangan tetap menjadi risiko yang bisa mengguncang harga di masa depan. Kabar baiknya, optimisme masyarakat masih sangat tinggi, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang melesat ke angka 135,7 pada Maret 2026. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Inflasi Balikpapan Maret 2026 #Harga Pertamax Balikpapan #Ekonomi Balikpapan Ramadan #Inflasi Makanan #BI BALIKPAPAN