KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kenaikan harga plastik mulai terasa hingga ke dapur-dapur usaha kecil. Bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menggantungkan kemasan pada bahan berbasis plastik, lonjakan harga bukan sekadar angka, tetapi ancaman nyata terhadap margin usaha yang sudah tipis.
Lia Nurlia, pemilik usaha camilan Chicken Bite, menjadi salah satu yang terdampak langsung. Sejak merintis usahanya pada 2015, hampir seluruh proses pengemasan produk bergantung pada plastik, mulai dari mika, thinwall, hingga wadah sambal.
“Pasti ngaruh, apa-apa pakai plastik. Biasanya Rp1,5 juta kalau belanja untuk kebutuhan usaha, jadinya naik Rp2,2 juta, itu kebutuhan untuk 2 hari beli bahan baku termasuk kemasan,” ujarnya.
Lonjakan biaya tersebut memaksa Lia untuk memutar otak agar usahanya tetap berjalan. Alih-alih menaikkan harga jual produk, dia memilih memangkas keuntungan demi menjaga daya beli pelanggan.
Baca Juga: Cuma Pakai Air Garam, Sakit Gigi Bisa Langsung Reda? Begini Caranya
“Enggak ada kenaikan harga untuk produk yang dijual, karena kalau naik pasti berimbas ke pembeli. Jadi sekarang dikurangi keuntungan, itu sekarang mikirnya ya sudah enggak apa-apa. Jadi keuntungan yang dikurangi,” katanya.
Strategi lain yang ditempuh adalah meningkatkan promosi untuk mendongkrak penjualan. Harapannya, volume penjualan yang meningkat bisa menutup biaya kemasan yang melonjak. “Gencar promosi saja, supaya bisa nutup. Kalau penjualan naik, pasti ada keuntungan walau istilahnya kepakai untuk beli bahan kemasan yang harganya naik. Jadi niatnya perbanyak penjualan supaya bisa nutup dikit,” jelasnya.
Menurut Lia, kenaikan harga plastik tidak lepas dari situasi global yang tengah bergejolak. Dia menilai konflik internasional ikut memberi dampak pada produksi dan distribusi bahan baku plastik. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha hanya bisa bertahan sambil terus memantau perkembangan situasi global.
Baca Juga: Kontroversi Wasit Wanita di Piala Dunia 2026, FIFA Hanya Pilih Dua Nama
Dampak perang turut menekan produksi plastik, sehingga biaya produksi meningkat dan distribusi global ikut terganggu. Meski masih bertahan dengan strategi saat ini, Lia tidak menutup kemungkinan akan menyesuaikan harga jual jika kondisi terus memburuk. Apalagi terindikasi tidak ada penurunan harga plastik.
“Kalau misal kondisi masih belum tentu, dan harga plastik naik terus-terusan, mau enggak mau naikin harga jual, tapi enggak banyak tentunya, cuma memang sambil pantau terus kondisinya sekarang. Intinya mode bertahan saja dulu,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo