KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Lonjakan harga bahan baku plastik mulai menekan pelaku usaha laundry di Samarinda. Salah satunya dirasakan langsung oleh Syamsudin Hamade, Owner Istana Laundry Samarinda, yang menyebut lonjakan harga plastik mencapai 15-20 persen dan berdampak pada peningkatan biaya produksi.
Menurut Syamsudin, kenaikan tersebut secara langsung mengerek harga pokok produksi (HPP). Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha dihadapkan pada dua pilihan sulit, yakni menaikkan harga jual atau melakukan efisiensi operasional.
Dia memilih langkah efisiensi yang diambil tidak setengah-setengah. Syamsudin mengaku telah memangkas jumlah outlet yang sebelumnya tersebar di beberapa titik. Kini, operasional difokuskan hanya pada lima titik layanan, yakni di Jalan Sutomo, Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Pangeran Hidayatullah, Grand Taman Sari, dan Jalan Wijaya Kusuma.
Baca Juga: Harga Plastik Melejit, Owner Chicken Bite Pilih Pangkas Cuan Demi Amankan Pelanggan!
Dia menegaskan, fokus utama kini berada di kawasan pusat kota seperti Sutomo dan Wijaya Kusuma. Strategi itu dilakukan untuk menekan biaya tenaga kerja sekaligus menghemat penggunaan listrik. “Dulu kami banyak outlet, sekarang kami persempit supaya manpower tidak terlalu banyak. Fokus di titik utama untuk efisiensi, baik tenaga kerja maupun pemakaian listrik,” jelas pria yang memulai usaha sejak 2012.
Di tengah tekanan biaya, menaikkan harga justru dinilai bukan solusi yang tepat. Syamsudin menyebut daya beli masyarakat saat ini sedang menurun, sehingga kebijakan menaikkan tarif berisiko menurunkan jumlah pelanggan. Berimbas pula pada penurunan omzet.
Dia menambahkan, konsumen kini memiliki banyak alternatif. Mulai dari mencuci sendiri hingga menggunakan jasa asisten rumah tangga dengan sistem harian atau beberapa kali dalam seminggu. “Orang bisa berpikir, ya sudah cuci sendiri saja daripada laundry kalau harganya naik. Ada juga yang membandingkan dengan sewa pembantu harian,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut dia, juga diperparah dengan perlambatan ekonomi yang berdampak pada sektor jasa. Bahkan, pada momen Lebaran yang biasanya menjadi puncak permintaan, tahun ini tidak menunjukkan lonjakan signifikan.
Baca Juga: Baju Belum Kering Padahal Besok Dipakai? Ini Tips Ampuh Mengeringkannya dalam Semalam
“Saya contohkan Lebaran tahun lalu, biasanya peak season kalau musim Lebaran. Tahun ini tidak terlalu. Saya tanya ke teman-teman usaha laundry lain, ternyata hampir sama. Ada kenaikan, tapi tidak seperti tahun sebelumnya yang bisa 50-100 persen,” bebernya.
Untuk menjaga kelangsungan usaha, Syamsudin kini memperkuat layanan antar-jemput sebagai strategi utama. Dia menilai, optimalisasi delivery lebih efektif dibandingkan membuka outlet baru.
“Kalau hitungan kami, daripada buka outlet dan tambah karyawan, lebih baik fokus ke outlet yang ada dan maksimalkan delivery. Saya juga punya armada, jadi lebih baik menambah karyawan untuk operasional delivery,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo