KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Lonjakan harga plastik kemasan menjadi sorotan pelaku usaha laundry karena dinilai berdampak langsung terhadap biaya operasional harian.
Amril, Owner Gokil Laundry di kawasan Loa Bahu, mengaku kenaikan harga plastik mulai terasa saat melakukan pembelian stok terbaru. Dia menyebut, harga plastik untuk kebutuhan packaging mengalami kenaikan cukup signifikan.
“Plastik packaging naik Rp7 ribu per pack, parfum laundry juga naik Rp2 ribu per botol kecil,” ujarnya. Menurut dia, kenaikan membuat pelaku usaha harus lebih berhati-hati dalam mengatur pembelian bahan baku. Dia bahkan mengurangi jumlah pembelian untuk mengantisipasi kemungkinan harga kembali turun dalam waktu dekat.
“Biasanya beli itu tidak tentu, kadang dua bulan sekali, kadang tiga bulan sekali. Kemarin akhirnya beli barang tidak banyak, yang awalnya mau beli 10 pack jadi cuma beli 6,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Plastik Melejit, Bos Istana Laundry Samarinda Pilih Tutup Outlet ketimbang Naikkan Tarif!
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk antisipasi di tengah ketidakpastian harga. Dia berharap harga bahan baku, khususnya plastik, dapat kembali stabil sehingga tidak semakin membebani usaha.
Sejak merintis usaha laundry lima tahun terakhir, Amril mengaku baru kali ini merasakan kenaikan harga bahan baku yang cukup terasa dalam waktu bersamaan. Tidak hanya plastik, beberapa kebutuhan lain seperti parfum laundry juga ikut mengalami penyesuaian harga.
Meski demikian, dia masih mencoba menahan diri untuk tidak langsung menaikkan tarif kepada pelanggan. Saat ini, pihaknya masih melakukan perhitungan ulang terhadap margin keuntungan untuk memastikan usaha tetap berjalan.
“Sudah dihitung marginnya, masih masuk. Tapi kami lihat dulu beberapa minggu ini, maksimal satu bulan. Kalau tidak ada penurunan harga, mau tidak mau nanti harga akan dinaikkan,” ungkapnya.
Baca Juga: Baju Belum Kering Padahal Besok Dipakai? Ini Tips Ampuh Mengeringkannya dalam Semalam
Di sisi lain, Amril menyadari bahwa kenaikan harga jasa laundry bukan keputusan mudah. Pasalnya, konsumen saat ini dinilai semakin sensitif terhadap harga dan memiliki banyak alternatif pilihan.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus cermat dalam mengambil keputusan agar tidak kehilangan pelanggan. Terlebih, sebagian bahan baku seperti plastik masih sulit digantikan karena menjadi kebutuhan utama dalam proses pengemasan pakaian.
Untuk sementara, Gokil Laundry masih mengandalkan efisiensi penggunaan bahan baku dan pengelolaan stok agar tidak terlalu membebani biaya operasional. Namun, jika tren kenaikan harga terus berlanjut, penyesuaian tarif dinilai menjadi opsi yang sulit dihindari. “Pokoknya sekarang semua jadi serba mahal,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo