KALTIMPOST.ID-Di tengah riuhnya persaingan industri properti nasional, ada satu nama yang bergerak relatif senyap namun konsisten memperluas pengaruhnya.
PT Indonesian Paradise Property Tbk atau Paradise Indonesia bukan tipe pengembang yang agresif tampil di ruang publik, tetapi justru diam-diam membangun fondasi bisnis yang kuat di berbagai kota.
Perjalanan perusahaan ini tidak dimulai dari lahan luas seperti banyak pengembang besar lain. Justru sebaliknya, Paradise tumbuh dari pengalaman mengelola.
Hotel menjadi pintu masuk, sebelum akhirnya merambah pusat perbelanjaan dan hunian. Dari sana, pola bisnisnya berkembang bukan sekadar membangun, tetapi menciptakan ekosistem.
Dalam kunjungannya ke Balikpapan beberapa waktu lalu, Presiden Direktur & CEO Anthony P Susilo menggambarkan strategi itu dengan sederhana. “Kalau dilihat, bisnis kami terbagi tiga: hotel, mal, dan penjualan properti. Kurang lebih masing-masing sepertiga,” bebernya.
Di balik pembagian yang terlihat sederhana itu, tersimpan strategi yang cukup matang. Saat penjualan properti melambat, yang kerap terjadi dalam siklus industri, pendapatan dari hotel dan pusat komersial tetap berjalan. Arus kas tetap terjaga, bisnis tidak sepenuhnya bergantung pada satu sektor.
Model seperti ini membuat Paradise relatif tahan terhadap gejolak. Apalagi sebagian besar pendapatannya berasal dari recurring income atau pendapatan berulang. Hotel tetap terisi, ruang ritel tetap tersewa, dan aktivitas ekonomi di dalam kawasan tetap hidup.
Yang menarik, ekspansi Paradise tidak terpusat di Jakarta. Justru sebagian besar asetnya berada di luar ibu kota. “Kami hadir di kota-kota seperti Batam, Bali, Jogjakarta, Makassar, dan akan segera hadir juga di Balikpapan,” sebutnya.
Di Balikpapan, Paradise Indonesia membangun kompleks bisnis bernama Plaza 88 Balikpapan. Lokasinya di Jalan Syarifuddin Yoes atau di seberang Dome Balikpapan.
Pilihan lokasi itu bukan tanpa alasan. Pertumbuhan kota-kota tersebut dinilai masih terbuka lebar, terutama dengan meningkatnya urbanisasi dan mobilitas masyarakat. Di titik inilah Paradise masuk, membawa konsep mixed-use menggabungkan hunian, komersial, dan perhotelan dalam satu kawasan.
Konsep itu terbukti mampu menciptakan pusat aktivitas baru. Kawasan yang sebelumnya biasa saja bisa berubah menjadi titik keramaian, menarik wisatawan, sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal.
Tidak hanya berdampak pada sektor properti, proyek-proyek ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. “Mulai tahap konstruksi hingga operasional, efek berantainya terasa cukup luas,” ucapnya.
Bahkan saat pandemi Covid-19 melanda, perusahaan tetap melanjutkan sejumlah proyek. Langkah itu tidak hanya menjaga bisnis tetap berjalan, tetapi juga memastikan aktivitas ekonomi di sektor konstruksi tidak sepenuhnya terhenti.
Di sisi lain, Paradise juga dikenal berani mengambil langkah yang tidak selalu ditempuh pengembang lain, yakni mengakuisisi proyek mangkrak. Bagi sebagian pihak, ini risiko besar. Namun bagi Paradise, justru menjadi peluang.
Dengan mengambil alih proyek yang terhenti, perusahaan tidak hanya melihat potensi keuntungan, tetapi juga menyelesaikan persoalan yang lebih luas, mulai kepastian bagi konsumen hingga pemulihan kawasan.
Anthony menyebut, pendekatan itu bukan perkara mudah. Banyak kepentingan yang harus disatukan, mulai dari pembeli, investor, hingga kreditur. Namun ketika berhasil, dampaknya jauh lebih besar dibanding membangun dari nol.
Di tengah perubahan perilaku konsumen terutama dengan maraknya belanja online, tantangan baru pun muncul. Pusat perbelanjaan tidak lagi bisa hanya mengandalkan fungsi transaksi. Harus ada pengalaman.
Karena itu, Paradise mulai menggeser konsep mal menjadi ruang gaya hidup. Tempat orang datang bukan hanya untuk belanja, tetapi juga berkumpul, menikmati hiburan, dan menghabiskan waktu.
Dalam lanskap industri properti yang sering diwarnai proyek tertunda dan ketidakpastian, strategi seperti ini terasa berbeda. Tidak terlalu bising, tetapi konsisten. Dan mungkin justru di situlah kekuatannya, membangun kota, tanpa banyak suara.
“Ke depan, ekspansi tetap berlanjut. Proyek di Balikpapan dan Semarang menjadi bagian dari langkah berikutnya,” tuturnya. Namun pendekatannya tampaknya tidak berubah: tumbuh perlahan, menjaga keseimbangan, dan memastikan setiap proyek benar-benar selesai. (rd)
Editor : Romdani.