KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pergerakan inflasi di Kalimantan Timur pada triwulan IV 2025 dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Sejumlah komoditas seperti emas perhiasan, beras, hingga ikan layang menjadi pendorong utama kenaikan harga.
Dijelaska Kepala KPw BI Kaltim Jajang Hermawan, lonjakan harga emas perhiasan terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi. Fenomena itu turut berdampak pada perilaku masyarakat di daerah. “Kondisi ketidakpastian ekonomi nasional dan global yang tinggi mendorong peningkatan permintaan masyarakat terhadap emas sebagai alternatif simpanan masa depan,” jelasnya.
Selain emas, beras menjadi komoditas strategis yang terus memberikan tekanan inflasi. Kenaikan harga dipengaruhi berbagai faktor struktural, mulai dari produksi hingga distribusi. “Kenaikan harga beras disebabkan oleh defisit proyeksi produksi dibandingkan konsumsi, kenaikan harga gabah petani, faktor musim dan iklim, permintaan cadangan beras pemerintah, serta inefisiensi distribusi,” ungkapnya.
Baca Juga: Sektor Makanan Minuman Kaltim Tumbuh 15 Persen, MIICCI Buka Pintu Ekspor ke Asia Hingga Eropa
Ketergantungan Bumi Etam terhadap pasokan dari daerah lain memperbesar dampak kenaikan harga tersebut. Tak hanya itu, komoditas ikan layang atau ikan benggol juga mengalami kenaikan harga akibat gangguan cuaca yang memengaruhi hasil tangkapan nelayan.
Sementara itu, produk tembakau seperti Sigaret Kretek Mesin (SKM) turut menyumbang inflasi akibat terganggunya distribusi yang berdampak pada kenaikan harga jual eceran.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa komoditas justru mencatat penurunan harga. Baju muslim wanita mengalami deflasi karena strategi diskon untuk menjaga daya saing antarprodusen. Selain itu, bahan bakar rumah tangga juga turun seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi. (riz)
Editor : Muhammad Rizki