KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Indonesia bersiap mengambil langkah besar dalam peta energi dunia. Ditandai dengan komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun pusat produksi energi terbarukan yang mengolah minyak kelapa sawit dan minyak jelantah (used cooking oil/UCO) menjadi bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren hijau global, melainkan strategi "benteng" nasional menghadapi potensi krisis energi akibat memanasnya geopolitik di Timur Tengah. Presiden Prabowo menyebut Indonesia memiliki modal kuat sebagai produsen sawit terbesar dunia untuk mewujudkan kemandirian energi.
"Kini kita bisa memproduksi bahan bakar penerbangan dari kelapa sawit dan minyak jelantah yang melimpah. Kita akan membangun pusat pengolahan dan kilang khusus. Pemerintah akan berinvestasi besar di sektor ini," tegas Presiden Prabowo saat meresmikan pabrik kendaraan komersial berbasis listrik di Magelang, Jawa Tengah, baru-baru ini.
Baca Juga: Bernapas Lega, Neraca Dagang Balikpapan Surplus USD 210 Juta
Sebelumnya, dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026), Presiden juga menyampaikan bahwa krisis global akibat konflik internasional menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Untuk mencapai kemandirian energi, Presiden juga mendorong pengembangan biofuel dari singkong dan jagung sebagai alternatif pengganti solar dan bensin. Dengan pengembangan sumber energi alternatif tersebut, Indonesia diharapkan dapat mengurangi impor bahan bakar, khususnya avtur.
Prabowo menilai Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk mewujudkan ketahanan energi, sehingga mampu bertahan menghadapi krisis energi global. Ia juga meyakini Indonesia relatif aman dari dampak langsung gangguan pasokan energi global karena memiliki sumber energi mandiri. “Setelah kita kaji, ternyata kita memiliki kekuatan ekonomi yang cukup untuk menghadapi krisis global,” ujarnya.
Meskipun kapasitas produksi belum dirinci, pemerintah menyatakan bahwa proyek ini akan dipercepat secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. Upaya ini juga diharapkan membuka peluang ekonomi baru serta memperkuat rantai pasok bahan bakar dalam negeri. Selain produksi SAF, pemerintah juga mendorong efisiensi energi dan percepatan elektrifikasi di berbagai sektor.
Tujuannya adalah mengurangi impor bahan bakar dan menekan emisi karbon, sekaligus menjaga pasokan energi di tengah ketidakpastian global. Presiden Prabowo menekankan pentingnya konservasi energi dan transisi menuju sumber energi terbarukan sebagai langkah strategis dalam menghadapi tantangan pasokan energi ke depan.
PT Pertamina Patra Niaga, anak usaha dari Pertamina, telah memproduksi SAF berbasis minyak jelantah dan menggunakannya untuk penerbangan komersial pertama rute Jakarta–Bali pada Agustus 2025. Pertamina menyatakan bahwa distribusi berjalan lancar, dengan bahan baku yang dikumpulkan dari masyarakat, restoran, dan pelaku usaha kecil.
Pengembangan ekosistem SAF dinilai mampu mendukung target penurunan emisi sekaligus membuka peluang ekonomi baru, terutama dalam bisnis pengumpulan bahan baku. Secara global, pasar SAF diperkirakan akan tumbuh pesat dalam beberapa tahun ke depan, didorong oleh target net-zero dan kebijakan pengurangan emisi.
SAF berbasis limbah seperti minyak jelantah mampu menurunkan emisi gas rumah kaca, serta kompatibel dengan mesin pesawat dan infrastruktur bandara yang sudah ada. Data BPH Migas menunjukkan bahwa stok avtur nasional saat ini mencapai 388.600 kiloliter, dengan konsumsi harian sekitar 13.800 kiloliter. Artinya, stok nasional cukup untuk sekitar 28 hari. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo