KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Grafik perdagangan luar negeri di Kota Minyak sedang mengalami fluktuasi tajam. Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan mencatat nilai impor pada Februari 2026 terjun bebas ke angka USD 326,02 juta.
Angka ini menunjukkan penurunan drastis sebesar 44,72 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh USD 589,79 juta.
Penurunan tajam ini memicu diskusi hangat di kalangan pengamat ekonomi: apakah Balikpapan sedang mengalami perlambatan produksi atau justru sukses melakukan efisiensi?
Kepala BPS Balikpapan, Marinda Dama Prianto, mengungkapkan bahwa penurunan ini tidak hanya terjadi secara bulanan (month-to-month), tapi juga tahunan (year-on-year/yoy). Jika dibandingkan dengan Februari 2025, angka impor merosot hingga 22 persen.
Baca Juga: Gaji ke 13 ASN Kapan Cair ? Penjelasan Menkeu Purbaya Bikin Was-Was Abdi Negara
"Penurunan terbesar terjadi pada sektor migas, terutama impor minyak mentah yang selama ini menjadi komponen dominan," beber Marinda, Jumat (17/4).
Namun, ada anomali menarik di balik lesunya angka migas. Sektor nonmigas justru menunjukkan taringnya dengan kenaikan signifikan. Dari semula USD 38,54 juta pada Januari, melonjak menjadi USD 64,83 juta di Februari 2026. Sebuah lompatan sebesar 68,21 persen.
Marinda menjelaskan, turunnya angka impor memiliki dua mata pisau. Di satu sisi, bisa berarti industri tengah "mengerem" produksi. Di sisi lain, hal ini bisa menjadi indikator adanya efisiensi dan pergeseran penggunaan sumber daya ke pasar domestik.
"Kenaikan impor nonmigas menjadi sinyal positif adanya aktivitas di sektor manufaktur dan konsumsi. Namun, karena migas masih mendominasi, penurunan di sektor tersebut tetap memberikan tekanan besar pada total angka impor kita," lanjutnya.
Baca Juga: KPK Geledah Kantor hingga Rumah Bupati Tulungagung, Sita Uang dan Dokumen Kasus Pemerasan
Meski Februari terlihat lesu, data kumulatif sepanjang Januari-Februari 2026 sebenarnya masih cukup menjanjikan. Secara total, nilai impor mencapai USD 915,81 juta, masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Ini menandakan aktivitas perdagangan di gerbang utama Kalimantan Timur ini masih sangat dinamis. Menanggapi fenomena ini, pelaku usaha di Balikpapan didorong untuk lebih lincah beradaptasi, terutama dalam memperkuat rantai pasok lokal.
"Kalau impor terlalu ditekan tanpa kesiapan produksi dalam negeri, risikonya adalah ketersediaan barang dan stabilitas harga. Keseimbangan ini yang harus kita jaga bersama," tegas Marinda. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo