Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Singapura 'Curi Panggung' di Balikpapan! Salip Nigeria Jadi Pemasok Utama, Nilai Impor Melonjak 260 Persen

Ulil Mu'Awanah • Jumat, 17 April 2026 | 20:26 WIB
BERGESER: Singapura mendominasi kinerja impor di Balikpapan.
BERGESER: Singapura mendominasi kinerja impor di Balikpapan.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Peta perdagangan internasional di Balikpapan mengalami pergeseran kursi pemain utama pada Februari 2026. Singapura secara mengejutkan menyalip posisi Nigeria sebagai kontributor impor terbesar bagi Kota Beriman.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan, Negeri Singa tersebut kini menguasai 21,17 persen dari total pangsa impor. Lonjakan dari Singapura tidak main-main. Secara bulanan, nilai impor dari negara tetangga tersebut meroket hingga USD 49,87 juta atau naik gila-gilaan sebesar 260,28 persen dibanding Januari 2026.

Kepala BPS Balikpapan, Marinda Dama Prianto, menjelaskan bahwa dinamika ini dipengaruhi oleh strategi logistik dan kebutuhan komoditas spesifik. Namun, ia memberi catatan penting terkait status Singapura.

"Singapura sering menjadi hub perdagangan. Jadi, peningkatan impor dari sana belum tentu mencerminkan asal barang sebenarnya, melainkan jalur transitnya," ungkap Marinda, Jumat (17/4).

Baca Juga: Anjlok Nyaris Separuh Harga! Nilai Impor Balikpapan Februari 2026 Turun Drastis, Sinyal Bahaya atau Efisiensi?

Kontras dengan Singapura, Nigeria yang sebelumnya mendominasi justru mencatat terjun bebas. Impor dari negara Afrika Barat tersebut anjlok USD 125,15 juta atau menyusut 68,01 persen. Meski merosot, Nigeria tetap berada di posisi kedua pemasok terbesar dengan kontribusi 18,06 persen, disusul Malaysia di angka 13,04 persen.

Selain Singapura, kenaikan impor juga datang dari Amerika Serikat dan Malaysia yang masing-masing naik USD 15,68 juta dan USD 17,67 juta. Sebaliknya, negara seperti Angola dan Brasil harus mencatat rapor merah dengan penurunan signifikan.

"Secara total, memang terjadi penurunan impor dibandingkan Januari. Namun, kenaikan pada beberapa mitra dagang utama menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi kita masih bergerak mencari keseimbangan baru," tambah Marinda.

Marinda menekankan pentingnya diversifikasi atau pemerataan negara asal impor. Menurutnya, bergantung hanya pada satu atau dua negara pemasok sangat berisiko di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian kompleks.

Baca Juga: Astra Motor Kalimantan Timur 2 Siap Memenuhi Kebutuhan Motor Matic Premium Masyarakat lewat HPMD

"Ketergantungan pada satu negara itu risiko tinggi. Ke depan, kita perlu memperkuat kerja sama dengan berbagai negara sekaligus mendongkrak daya saing produk lokal kita sendiri," tegasnya.

Perubahan pola mitra dagang ini, lanjut Marinda, menjadi bukti bahwa struktur ekonomi Balikpapan cukup adaptif dalam merespons gejolak eksternal. "Ini indikator bahwa Balikpapan terus menyesuaikan diri dengan dinamika perdagangan global yang semakin kompleks," tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Impor Singapura ke Balikpapan #Impor Nigeria #Marinda Dama Prianto #perdagangan luar negeri #BPS Balikpapan