KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Ancaman krisis energi mulai menghantui kawasan Eropa. Gangguan pasokan minyak global akibat konflik di Timur Tengah membuat ketersediaan bahan bakar pesawat (avtur) diperkirakan hanya mampu bertahan dalam hitungan minggu.
Peringatan itu disampaikan Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol.
Ia menyebut situasi saat ini sebagai salah satu krisis energi paling serius yang pernah terjadi, dipicu terganggunya distribusi minyak dan gas dunia.
Baca Juga: TNI AD Kirim 104 Perwira ke Pakistan 2026, Latihan Operasi Perang dan Intelijen Modern
Salah satu faktor utama adalah tertutupnya jalur strategis Selat Hormuz, yang selama ini menjadi lintasan sekitar 20 persen distribusi minyak global. Penutupan jalur tersebut membuat pengiriman energi ke berbagai negara, termasuk Eropa, terhambat.
Dampaknya mulai terasa pada sektor penerbangan. Kapal tanker pengangkut bahan bakar kesulitan mencapai pelabuhan tujuan, sementara jalur alternatif masih terbatas.
Kondisi ini berpotensi memicu pembatalan penerbangan dalam waktu dekat jika pasokan tidak segera pulih.
Harga minyak dunia pun kembali merangkak naik mendekati USD100 per barel, memperburuk tekanan terhadap industri energi dan transportasi.
Baca Juga: Penjelasan PDIP soal Bupati Malang Lantik Anak Jadi Kadis LH, Disorot Isu Nepotisme
Sejumlah maskapai di Eropa kini mulai bersiap menghadapi kemungkinan pengurangan jadwal penerbangan.
IEA mengingatkan, jika jalur distribusi utama tidak segera dibuka kembali, krisis energi bisa meluas dan berdampak pada berbagai sektor ekonomi global.
Editor : Uways Alqadrie