KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Penjualan kendaraan roda empat di Samarinda masih menunjukkan tren stabil di tengah kondisi ekonomi yang dinamis. Permintaan pasar bahkan tercatat mengalami sedikit peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
Branch Manager Auto2000 Samarinda, Jimmy Irawan, mengungkapkan bahwa volume penjualan mobil saat ini berada di kisaran 450 hingga 500 unit per bulan. “Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, relatif sama. Tapi dari semester II 2025 ke tiga bulan pertama 2026 ada sedikit kenaikan,” ujarnya.
Menurut Jimmy, terdapat beberapa segmen kendaraan yang mendominasi pasar otomotif di Samarinda. Segmen tersebut mencerminkan karakteristik kebutuhan konsumen. Segmen pertama adalah double cabin 4x4 yang banyak diminati oleh sektor industri, khususnya pertambangan dan perkebunan. Kendaraan jenis tersebut dinilai tangguh dan sesuai dengan kondisi medan di wilayah Kalimantan.
Selain itu, segmen SUV medium juga menjadi pilihan utama masyarakat. Produk seperti Toyota Rush dan Daihatsu Terios masih menjadi kontributor besar dalam penjualan. “Segmen SUV medium ini cukup kuat karena multifungsi, bisa untuk keluarga sekaligus aktivitas harian,” jelasnya.
Segmen berikutnya adalah kendaraan entry level atau low MPV/LCGC. Di kategori tersebut, model seperti Toyota Calya, Daihatsu Sigra, hingga Toyota Agya masih memiliki permintaan yang tinggi karena harga yang lebih terjangkau.
Jimmy menyebut, tiga segmen utama tersebut secara total menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar di Samarinda. “Dari tiga segmen itu saja sudah lebih dari setengah market,” katanya.
Dari sisi pola pembelian, dia mengungkapkan bahwa mayoritas konsumen masih mengandalkan pembiayaan kredit. Sekitar 65 hingga 70 persen transaksi kendaraan dilakukan melalui skema pembiayaan. Hal itu membuat peran perusahaan pembiayaan menjadi sangat krusial dalam menjaga stabilitas pasar otomotif.
“Kalau pembiayaan sehat, dealer juga bisa sustain. Jadi kita harus berjalan beriringan,” tegasnya. Jimmy juga menekankan pentingnya sinergi antara dealer dan perusahaan pembiayaan dalam menghadapi tantangan pasar. Menurutnya, keseimbangan antara pertumbuhan penjualan dan kualitas kredit harus dijaga agar industri tetap sehat.
“Tidak bisa hanya mengejar penjualan, tapi kualitas pembiayaan juga harus diperhatikan,” tambahnya. Dengan tren pasar yang masih stabil serta dukungan pembiayaan yang terjaga, dia optimistis industri otomotif di Samarinda masih memiliki prospek positif ke depan, terutama dengan potensi pasar yang belum sepenuhnya tergarap. (*)
Editor : Ismet Rifani