KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Peta pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) di Kalimantan Timur tidak hanya melemah dari sisi asal perjalanan, tetapi juga dari tujuan kunjungan. Hampir seluruh daerah tujuan wisata mencatat penurunan jumlah kunjungan pada Februari 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
Dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, penurunan terdalam terjadi pada perjalanan menuju Berau yang mencapai 27,43 persen dibandingkan Januari 2026. Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Kaltim, Ariyanti Cahyaningsih, menjelaskan bahwa tren penurunan terjadi merata di berbagai kabupaten/kota tujuan.
Selain Berau, sejumlah daerah lain juga mencatat penurunan cukup dalam. Penajam Paser Utara turun 27,28 persen, Mahakam Ulu 25,59 persen, Balikpapan 24,08 persen, dan Bontang 22,79 persen. Penurunan juga terjadi di Kutai Barat 18,67 persen, Kutai Timur 15,78 persen, Paser 15,58 persen, Samarinda 12,72 persen, serta Kutai Kartanegara 11,43 persen.
Baca Juga: UMKM Tak Perlu Takut Pajak! Kanwil DJP Kaltimtara Siapkan Skema Sederhana, Intip Bocorannya
Meski secara bulanan hampir seluruh daerah tujuan mengalami kontraksi, kondisi berbeda terlihat pada capaian kumulatif awal tahun. Selama Januari-Februari 2026, beberapa daerah justru mencatat pertumbuhan jumlah perjalanan wisnus.
Ariyanti menyebut, Penajam Paser Utara menjadi daerah dengan pertumbuhan tertinggi pada periode tersebut. “Secara kumulatif sepanjang Januari-Februari 2026, Penajam Paser Utara tercatat menjadi kabupaten dengan pertumbuhan jumlah perjalanan wisnus tertinggi 10,43 persen,” jelasnya.
Selain itu, pertumbuhan juga terjadi di Berau 6,33 persen, Mahakam Ulu 6,17 persen, serta Bontang 1,50 persen. Di sisi lain, sejumlah daerah masih mencatatkan penurunan secara kumulatif. Balikpapan mengalami turun 7,89 persen, diikuti Samarinda 6,98 persen, Kutai Barat 5,56 persen, Paser 3,44 persen, Kutai Kartanegara 2,93 persen, serta Kutai Timur 1,92 persen.
Baca Juga: BBM Nonsubsidi Naik Per 18 April, Kadin Sebut Stok Harus Aman, Jangan Sampai Ada Kelangkaan!
Meski terjadi penurunan secara bulanan, beberapa daerah masih mampu mempertahankan tren pertumbuhan secara kumulatif. Fenomena tersebut sekaligus mencerminkan bahwa minat perjalanan wisata di dalam daerah masih ada, namun belum merata di seluruh wilayah. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo