Memasuki Februari 2026, rata-rata lama menginap tamu nusantara tercatat mencapai 1,82 hari. Angka ini tidak hanya lebih tinggi dari bulan sebelumnya, tetapi juga sukses melampaui rekor puncak tahun lalu yang terjadi pada Agustus 2025 sebesar 1,74 hari.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan, Marinda Dama Prianto, menegaskan bahwa pasar domestik kini sah menjadi tulang punggung sektor perhotelan.
“Kenaikan lama menginap tamu nusantara menunjukkan peran krusial wisatawan domestik dalam menjaga stabilitas industri perhotelan di daerah. Mereka relatif lebih konsisten,” ungkap Marinda.
Baca Juga: Rata-rata Lama Menginap Tamu Hotel Balikpapan Naik, Pasar Nusantara Jadi Penopang Utama
Kontras dengan pasar domestik, pergerakan tamu asing justru terlihat seperti "yoyo" alias fluktuatif tajam. Sempat menyentuh angka puncak hampir empat hari (3,76 hari) pada April 2025, durasi inap tamu mancanegara terus merosot hingga menyentuh 2,39 hari pada Februari 2026.
Secara visual, tren ini menggambarkan dua garis yang berbeda arah: garis tamu asing melandai setelah sempat melonjak tinggi, sementara garis tamu domestik bergerak stabil dan perlahan menanjak dari kisaran 1,5 hari menuju ambang 2 hari.
“Pergerakan ini memberikan pesan kuat bahwa pasar asing masih belum stabil. Di sisi lain, pasar domestik justru relatif konsisten dan memiliki kecenderungan menguat secara perlahan,” jelasnya lagi.
Secara kumulatif (gabungan), rata-rata lama menginap total di Balikpapan meningkat dari 1,59 hari pada Februari 2025 menjadi 1,83 hari pada Februari 2026.
Baca Juga: Hanya Separuh Kamar Terisi, Tingkat Penghunian Hotel di Balikpapan Turun Tipis pada Februari 2026
Melihat fenomena ini, pelaku industri pariwisata dan perhotelan disarankan untuk tidak lagi "setengah hati" dalam menggarap pasar lokal. Penguatan promosi destinasi, pembuatan paket wisata kreatif, hingga penyelenggaraan event lokal menjadi kunci untuk menjaga napas industri.
"Dengan tren penguatan pasar domestik ini, sektor perhotelan di Balikpapan diharapkan mampu menjaga kinerjanya tetap stabil, meskipun harus menghadapi tantangan penurunan okupansi dalam jangka pendek," pungkas Marinda. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo