KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kinerja pelabuhan di Balikpapan tengah menunjukkan dinamika yang "gelisah". Meski arus barang yang masuk ke Kota Beriman menunjukkan tren kenaikan secara bulanan, namun daya dorong untuk mengirim produk lokal ke luar daerah justru masih jalan di tempat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan mencatat, total angkutan laut dalam negeri pada Februari 2026 menyentuh angka 208.486 ton. Secara bulanan, angka ini naik 10,65 persen dibanding Januari. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, performanya masih merosot 21,03 persen.
Kepala BPS Balikpapan, Marinda Dama Prianto, menyoroti adanya ketidakseimbangan yang cukup mencolok. Aktivitas bongkar (barang masuk) masih mendominasi porsi sebesar 86,96 persen atau sekitar 181.302 ton.
“Kenaikan muat secara bulanan memang menunjukkan ada sedikit pergerakan ekonomi. Tapi, penurunan tahunan yang cukup tajam menandakan daya dorong ekspor lokal kita masih lemah,” jelas Marinda.
Kondisi fluktuatif ini membuat para pelaku usaha di Balikpapan memilih untuk bermain aman. Banyak yang memutuskan untuk menahan produksi atau menunda ekspansi bisnis akibat ketidakpastian harga bahan baku serta situasi global yang belum stabil.
Aktivitas muat (barang keluar) tercatat sebesar 27.184 ton. Meski secara bulanan naik 34,40 persen, angka tersebut nyatanya masih anjlok hingga 39,85 persen dibandingkan Februari 2025.
Dominasi barang masuk yang tidak dibarengi dengan pengiriman produk lokal yang kuat mulai dirasakan dampaknya oleh sektor perdagangan. Stok barang di pasar kini lebih banyak disuplai dari luar daerah, sementara produk asli Balikpapan belum mampu mengimbangi distribusi tersebut.
Marinda menegaskan, jika kondisi ini terus berlanjut, Balikpapan berisiko mengalami ketergantungan akut terhadap pasokan luar daerah.
"Hal ini bisa memengaruhi keseimbangan ekonomi lokal dalam jangka panjang. Kita butuh penguatan di sektor produksi lokal agar arus keluar barang juga bisa meningkat," tegasnya.
Situasi ini menjadi "lampu kuning" bagi pemerintah kota untuk kembali menggenjot sektor industri dan perdagangan lokal agar tidak sekadar menjadi pasar bagi produk luar, tetapi juga mampu menjadi pemain utama dalam rantai pasok domestik. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo